Legenda Kabut & Wringin Lawang..

Kira-kira satu bulan sebelum keberangkatan ke Trowulan, gw melihat sebuah foto cantik hasil perjalanan Bli Putu di Trowulan. Foto dengan objek sebuah gapura semacam gerbang dengan suasana kabut pagi yang tebal. Setelah komen-komenan foto via FB, gw pun baru tau tentang adanya legenda kabut Majapahit. Kabut biasanya pelan-pelan menghilang ketika hari semakin terang, tapi kabut di Trowulan berbeda, semakin terang justru malah akan semakin tebal. Konon, kabut ini adalah salah satu strategi prajurit Majapahit untuk bersembunyi dari kejaran musuh.Jadi kami pun berniat membuktikannya dengan mata kami sendiri. Tanpa mandi, pukul 05.30 pagi itu kami menuju Gapura Wringin Lawang. Keluar dari area penginapan, kabut sudah terlihat. Begitu tiba di jalan raya, ketebalan kabut semakin menjadi yang membuat jarak pandang kami pun semakin pendek. Oh what a misty morning.

Gapura Wringin Lawang terlihat sangat anggun ketika kami tiba. Berlatar belakang sawah, matahari terbit & tentu saja kabut tebal membuat Wringin Lawang terlihat bagaikan pintu gerbang menuju surga. *I called it Heaven’s Gate.. :mrgreen:* Intinya, suasana pagi itu sungguhlah mengharu biru.

A Very Misty Wringin Lawang..

*ancient site with a beautiful background, i cannot ask for more..*πŸ™‚

Terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Gapura Wringin Lawang cukup mudah ditemukan karena letaknya yang tidak jauh dari Jl. Raya Jombang-Mojokerto. Wringin Lawang terbuat dari batu bata merah, berbentuk gapura dengan denah empat segi panjang berukuran panjang 13 Meter, lebar 11.5 Meter & tinggi 15.50 Meter. Lebar antara kedua dinding gapura adalah 3.5 Meter dengan anak tangga pada sisi timur & barat.

Berdasarkan hasil penelitian, pada sisi utara & selatan gapura terdapat sisa struktur batu bata yang diduga adalah bagian dari tembok keliling. Lalu di halaman sebelah barat daya ditemukan sebanyak 14 buah sumur. Dari sinilah diperkirakan bahwa Gapura Wringin Lawang menghadap ke barat & berfungsi sebagai gerbang untuk memasuki sebuah kompleks bangunan.

Kabut pun perlahan menghilang setelah tebal kabut mencapai puncaknya pada pukul 06.30 pagi. Kemarin, matahari terbenam di Brahu & kini matahari terbit di Wringin Lawang. Subhanallah. Life is really good.πŸ™‚

Kami pun beranjak kembali ke penginapan. Saat itu, gw cuma ingin mandi.:mrgreen:

16 Responses to Legenda Kabut & Wringin Lawang..

  1. mawi wijna says:

    pas naek kereta malam Jogja-Surabaya di stasiun Mojokerto pun ada kabut

  2. Gandi Wibowo says:

    Jadi, karena makin siang makin tebal kabutnya, itu sebabnya berangkat jam 5:30? *Sunrise yang kesiangan*

  3. atita says:

    Mystical. Majestic. Magical.

  4. hanif says:

    Jangan-jangan itu memang benar-benar pintu menuju surga mba? *kebanyakan nonton di TPI he he he

  5. Cita says:

    Omah…lama gak nengok ke sini, ternyata rumahnya udah ganti designπŸ™‚

  6. stevie says:

    Mmng bnr adanya kabut itu mba, n slh satu alasnya udh mba sebutkn td kalau mbaa ingin mngetahui guna kabut itu, n ingin mlihat krajaan majapahit sumonggo bljrlh. ilmu sejati untuk mltih indera ke 6 mbak..

  7. stevie says:

    Sae njenengan mba, tasih wonten lare enem ingkang nggadah prihaten dumateng uri2 kabudayan jawi. Utawi paninggal sejarah.. Kalau mau share. Ttg kebudayaan n peningglan sejarah… saya ada di stevie_ferdian@yahoo.com mba.. Sugeng enjang rahayu.

  8. -_- says:

    BTW, jadi sebetulnya setelah jam 7 pagi, kabutnya sudah hilang, ya? Berarti cerita bahwa kabutnya adalah kabut abadi tidak benar, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: