Pleased to Meet You, Mr. Brahu..

Hari masih sore setelah kami tiba di kamar sewaan & foto-foto di The Reclining Buddha Mahavihara Mojopahit. Mau ngendon di kamar aja koq rasanya sayang, rugi & malu sama langit Trowulan yang saat itu cerah berawan. Setelah menempuh 6 jam perjalanan darat melewati beberapa kabupaten di Jawa Tengah & Jawa Timur, kami pun melanjutkan perjalanan. Ga capek? Ngga, kami terlalu excited untuk merasa capek.😀 Jadi apa objek terdekat dari vihara? Itulah tujuan pembuka kami sore itu.

Dari kejauhan, tinggi bangunannya sudah terlihat. Itu dia, Candi Brahu. Kami tiba di lokasi hanya beberapa menit menjelang Maghrib, jadi bisa dipastikan pagar di sekeliling candi sudah ditutup. Segerombolan anak sekolah yang berada di dalam kawasan candi menyarankan agar kami masuk lewat sela-sela pagar kawat di bagian belakang. *Maafkan kami para pihak berwenang, kami hanya tidak sabar untuk mengagumi Candi Brahu.. :mrgreen:*

“Hi there, Mr. Brahu. You look so awesome.” sapaku ketika berhadapan dengannya. Oh yeah, have i said that the combination of beautiful temple, blue sky & the sunset is such an amazing thing? Well, that’s what I got that evening. Lucky me.🙂

Candi Brahu

Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah yang umumnya terbuat dari batu andesit, candi di Jawa Timur sebagian besar berbahan dasar batu bata merah, begitupun candi Brahu ini. Candi ini berukuran tinggi 25.7 Meter & lebarnya 20.70 Meter. Berdasarkan hasil penelitian carbon dating, diduga Candi Brahu berasal dari masa tahun 1410 hingga 1646 Masehi, sehingga candi ini terbilang yang paling tua dibandingkan candi-candi lainnya di Trowulan. Berdasarkan prasasti Alasantan (939 Masehi) yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu, dituliskan tentang adanya bangunan suci yang bernama warahu alias Brahu.

Struktur bangunannya terdiri dari kaki, tubuh & atap. Berdasarkan penelitian pada kaki candi, diketahui terdapat sususan struktur batu bata yang terpisah, hal ini diduga adalah sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan hasil rekonstruksi batu bata baru yang disusun pada masa pemerintahan Belanda. Pada bagian tubuhnya, terdapat bilik berukuran 4×4 Meter dengan kondisi lantai yang sudah rusak. Well, gw rasa inilah penyebab mengapa ada papan larangan bagi pengunjung untuk naik.

So, what are you waiting for? Go meet Mr. Brahu & explore his greatness. Best time here is definitely at the sunset time.

This following statement of mine might sounds kinda geeky;

Bertemu dengan candi lagi setelah beberapa bulan, entah mengapa membuat gw merasa lebih ringan & bahagia. Rasanya seperti berjumpa dengan kekasih setelah lama tidak bersama.

5 Responses to Pleased to Meet You, Mr. Brahu..

  1. mawi wijna says:

    saya lupa ngirim foto ke anak2 yang ada disitu

  2. Pingback: Legenda Kabut & Wringin Lawang.. « 212 Notes

  3. Gandi Wibowo says:

    Dan Gw benci… karena ternyata itu terakhir kali kita liat brahu **masih berpikir seharusnya kita ke brahu lagi sehabis dari gentong*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: