Ekspedisi Karanganyar – Minggu, 07/03/10..

Berhubung dengan banyaknya permintaan agar gw menulis cerita perjalanan terakhir gw, maka OK akan gw tulis SEKARANG. ­čśÇ

Perjalanan gw berawal dari rasa penasaran gw kepada teman-teman pencinta batu yang awalnya gw kenal dari Page Komunitas Arca di FB. Jadilah hari Minggu, 7 Maret 2010 gw bergabung dengan mereka mengunjungi situs-situs purbakala di Karanganyar, Jawa Tengah. Siapa saja anggota ekspedisi ini? Dimulai dari yang dituakan yaitu Mas Kris Budiman sang penulis Lumbini, lalu ada Bli Putu Sutawijaya sang maestro lukis, Mas Cuk Riomandha yang amat sangat mudah dikenali dari pilihan-pilihan pakaiannya, Mba Mas Ayu Kumala Yulia yang mau berbaik hati menerjemahkan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia & ada Rafael Agastya yang identik dengan kata ‘Yoi’. Berangkat jam 7 pagi dari Jombor, kami sempat mampir di Solo untuk sarapan soto. Gw yang baru kali itu meninggalkan jejak di Solo, sempat kegirangan sewaktu melewati jalan di samping Kraton Solo yang masih diapit oleh 2 tembok besar khas kraton.

sarapan dulu..

Selesai sarapan, perjalanan dilanjutkan & gw pun mendapat kabar gembira kalau Zia, yang kebetulan lagi dinas di seputaran Jawa Tengah, akan menyusul ke lokasi pertama dengan membawa serta duo blogger asal Solo yaitu Triunt & YosBeda. *Huhuyy!! :D* Kira-kira jam 10.00 pagi, kami pun tiba di Candi Sukuh & gw ga tahan untuk tidak menikmati pemandangan di sekitar candi yang luar biasa cantik. ^^ Selayaknya pencinta candi & situs-situs purbakala, gw sudah lama penasaran dengan bentuk nyata candi ini. Kenapa? Tentunya karena arsitekturnya yang ga lazim & relief-reliefnya yang menurut gw sedikit provokatif. Candi ini secara administratif terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah & berada di ketinggian 1.186 Meter DPL. Singkat saja soal Candi Sukuh berdasarkan papan informasi di lokasi, candi ini berlatar belakang agama Hindu & dibangun tahun 1437-1456 Masehi. Ditemukan dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson & pada tahun 1928 dipugar oleh Suaka Peninggalan Sejarah & Purbakala Jawa Tengah. Silakan merujuk ke situs-situs maya berikut kalau para pembaca butuh informasi lengkap tentang Candi Sukuh; Navigasi.net & Wikipedia.

Candi Sukuh

Setelah puas keliling-keliling, foto-foto & kopdar dadakan dengan Zia, Triunt & YosBeda, perjalanan pun berlanjut ke Situs Planggatan. Jalan menuju situs ini lumayan ekstrem dengan tanjakan & turunan yang berliku-liku, plus masih harus jalan kaki untuk tiba di lokasi. Ga banyak yang bisa gw lihat di situs ini selain beberapa batu berelief yang gambarnya sudah hampir pudar. Informasi perihal situs ini minim banget, cuma aja menurut teman-teman gerombolan pencinta batu, Situs Planggatan adalah bekas tempat tinggal atau kraton dari Prabu Brawijaya V. Mungkin ada teman-teman yang punya informasi lain tentang situs ini?

Situs Planggatan

Candi Cetho adalah situs berikutnya yang beruntung mendapatkan kunjungan kami. Perjalanan menuju candi ini dihiasi kebun-kebun teh & bukit-bukit yang membiru. *Kenapa bahasa gw jadi puitis gini ya?* Tanjakan yang semakin ekstrem membuat udara juga jadi makin sejuk & segar. Berdasarkan keterangan dari papan informasi, Candi Cetho adalah candi Hindu berupa punden berundak sebanyak 13 teras yang terletak pada ketinggian 1400 Meter DPL. Candi ini diperkirakan dibangun pada tahun 1451 Masehi. Ditemukan pada tahun 1842 oleh Van der Vlis & kemudian dilakukan ekskavasi oleh Dinas Purbakala pada tahun 1928. Candi Cetho ini bentuknya seperti pura yang biasa ditemui di Bali atau biasa disebut jenis candi bentar yang berupa gapura.

Candi Cetho *semacam pintu gerbang menuju surga*

Lanjut!! Sekarang mari kita kunjungi Pura Saraswati yang terletak kira-kira di belakang Candi Cetho. Pura Saraswati ini bukan jenis bangunan purbakala, tapi ga rugi koq mampir ke tempat yang masih digunakan oleh umat Hindu untuk beribadah ini. Kenapa dinamakan Pura Saraswati? Karena di tengah-tengah area ini terdapat patung Dewi Saraswati yang melambangkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan informasi yang gw dapat dari teman-teman pencinta batu, patung Dewi Saraswati ini adalah hadiah dari Bupati Gianyar. *Mohon dikoreksi kalau gw ada salah informasi.* Menurut gw, tempat ini cukup terawat & Bli Putu pun menyempatkan berdoa di sini sambil menyipratkan air doa enteng jodoh untuk gw. Hehehe.. *Amin.. :D*

Puri Taman Saraswati

Dewi Saraswati

Nah, setelah menunggu redanya hujan di Pura Saraswati, kami sempat bingung untuk melanjutkan perjalanan. Apakah mau lanjut ke Candi Kethek atau mau turun gunung alias pulang. Tapi naluri kecintaan kami teramat besar untuk melewatkan Candi Kethek yang mungkin sedang menunggu kunjungan kami ini, jadi perjalanan dilanjutkan!! Medan menuju Candi Kethek menurut seorang gadis dari Jakarta seperti gw ini cukup berat. Bayangkan aja, jalan menuju lokasi cuma jalan tanah selebar 2 orang dewasa, curam & harus melewati sebuah sungai mati dengan batu-batuan besar yang licin. Apalagi sebelum berangkat, gw sempat khawatir kalau sungai ini tiba-tiba berair lagi mengingat sekarang sedang musimnya hujan, tapi untungnya sungai ini kering. ­čśÇ

Tiba di lokasi, gw sudah kepayahan; nafas tinggal sepotong & kaki gw kram. But anyway, kelelahan itu terbayar koq. Candi Kethek memang tidak seindah Candi Prambanan atau Kraton Ratu Boko, tapi candi ini unik. Bentuknya lagi-lagi berupa punden berundak & ketika pertama kali melihat candi ini, gw seperti sedang berada di zaman prasejarah dengan bangunan megalithik di hadapan gw. *Kira-kira seperti apa ya fungsi candi ini dulu?* Informasi soal candi ini minim sekali, jadi silakan merujuk ke blog tetangga yang sudah pernah mengunjungi situs ini sebelumnya.

Candi Kethek

OK, semua tujuan sudah tercapai dengan teramat sukses, jadi lunas sudah hutang laporan perjalanan gw kali ini. Selamat menikmati & semoga menginspirasi untuk dijadikan lokasi wisata purbakala.

NB. Laporan ini didedikasikan khusus untuk para Bol Brutu. ^^