Lumbini & Lumbini

Setengah 2 siang kemarin, Lumbini yang gw tunggu-tunggu akhirnya datang diantar oleh Pak Pos bermotor oranye khas PT Pos Indonesia. Ada yang bingung siapakah atau apakah Lumbini itu? Bukan, Lumbini yang datang ini bukan Lumbini situs bersejarah di Nepal, Lumbini yang gw tunggu kedatangannya ini adalah sebuah buku, novel lebih tepatnya, karangan Kris Budiman yang jalan ceritanya berlatar belakang di sekitar Lumbini. Kiriman buku ini berasal dari pengarangnya sendiri, disertai bubuhan tanda tangan di halaman pertamanya. Dan ini pertama kalinya gw punya buku dengan tanda tangan penulisnya. *Norak banget ya? :mrgreen:* Apakah gw habis menang kontes berhadiah buku selayaknya blogger-blogger lainnya? Ngga, kiriman buku ini bukan hasil kontes-kontesan, ini murni kebaikan Mas Kris yang (mungkin) kasihan begitu tau kalau gw penasaran dengan kisah di novel Lumbini ini. Hehehe.. *Thanks much ya, Mas..* ^^

Anyway, sebelum mulai bikin review sok tau & sok filosifis ala gw perihal buku ini, gw mau cerita dulu soal sejarah situs Lumbini. Lumbini terletak di kaki pegunungan Himalaya di Nepal. Berdasarkan buku-buku yang pernah gw baca, Lumbini adalah sebuah taman tempat Ratu Maya Devi melahirkan anaknya, Siddharta Gautama, yang kelak menjadi Sang Buddha. Ratu Maya Devi melahirkan di taman Lumbini dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya, karena menahan rasa sakit, Ratu Maya Devi berpegangan pada dahan pohon Sal yang rimbun &  lahirlah Siddharta Gautama. Selain tempat kelahiran Sang Buddha, di Lumbini juga terdapat kolam suci tempat Ratu Maya Devi mandi sebelum melahirkan & pilar Ashoka yang biasa digunakan untuk ritual pradaksina (ritual berkeliling searah jarum jam terhadap objek yang dianggap suci oleh umat Buddha). Info lengkap & foto2 tentang Lumbini bisa dilihat di http://www.sacred-destinations.com/nepal/lumbini atau di http://www.lumbini.info/index.asp

kiriman buku Lumbini..

pertama kalinya gw punya buku yang ada tanda tangan penulisnya..😛

Kembali ke Lumbini yang berupa buku atau novel dengan sampul depannya seperti foto di atas. Cover bukunya sendiri menurut gw terlihat simpel & cantik dengan potongan kain berwarna oranye yang dijahit di tengah-tengah sampul depan. Kenapa warna oranye? Hmmm.. Mungkin karena Kuil Ratu Maya Devi di Lumbini juga berwarna oranye. Buku ini terbit tahun 2006, jadi bukan masuk golongan buku baru. Tokoh utama dalam novel ini bernama Ratna, seorang arsitek lulusan dari UGM. Ratna terobsesi dengan cerita-cerita petualangan semacam Indiana Jones, Sinbad hingga kisah Oki & Nirmala di Majalah Bobo sebagai pelarian dari kebosanannya menjalani rutinitas semu sebagai anak tunggal dari keluarga yang kaya. Kejemuannya itu akhirnya membawanya tiba di Nepal, Ratna membutuhkan tempat tenang dimana tak ada satu orang pun yang mengenalnya. Di Nepal, Ratna berkenalan dengan Niko, seorang arkeolog lulusan UGM yang sedang menjadi sukarelawan pada sebuah proyek World Heritage Sites di Lembah Kathmandu. *Tiba-tiba gw keinget petualangan Tintin di Kathmandu yang ketemu Yeti di judul Tintin in Tibet.. :D*

Setelah beberapa hari menghabiskan waktu bersama, Ratna kemudian memutuskan untuk ikut rencana Niko pergi ke Lumbini untuk memotret sebuah relief Ratu Maya Devi. Setibanya di Lumbini, ketika Niko sedang asyik memotret relief, Ratna mengalami kejadian ganjil dengan seorang bhikkhu atau biksu yang mengajaknya masuk ke sebuah vihara. Di sana Ratna melihat gambaran atau vision tentang peristiwa kelahiran Sang Budhha; Ratna berada di sana, satu di antara dayang-dayang kerajaan yang mengelilingi Maha Ratu. Dan kata-kata terakhir biksu tersebut sebelum menghilang adalah pesan agar Ratna menemuinya lagi di Candi Mendut pada Waisak berikutnya.

Singkat cerita, liburan Ratna selesai, ia harus kembali ke Jakarta & meninggalkan Niko yang, menurut pengamatan gw, sudah dicintainya. Ratna lalu sungguh-sungguh pergi ke Candi Mendut ketika Hari Raya Waisak untuk menemui biksu misterius itu, juga untuk menemukan tentang siapakah dirinya sesungguhnya. Di Vihara Candi Mendut lah akhirnya Ratna menemukan biksu itu serta menemukan petunjuk berupa patung Buddharupam berwarna biru yang lagi-lagi menurut gw adalah jawaban dari segala pencarian Ratna selama ini tentang dirinya sendiri.

Overall, gw suka kisah perjalanan Ratna ini. Kisah Ratna bikin gw sadar, untuk kesekian kalinya, bahwa kehidupan adalah proses, dan gw pun semakin yakin kalau tidak ada satu pun momen yang terjadi atas nama kebetulan. Dan apakah itu untuk mengenali diri sendiri, untuk menemukan pasangan hidup hingga mencapai tujuan atau cita-cita hidup kita, segalanya butuh proses. As Phil Collins said; you can’t hurry love, well you cannot hurry everything coz everything will come perfectly on its time.  Jadi, marilah kita nikmati segala proses berusaha kita sekarang & bersyukur ketika akhirnya semua jawaban-jawaban dari doa & usaha kita datang; Lets Give More & Expect Less.. ^^

26 Responses to Lumbini & Lumbini

  1. mawi wijna says:

    halah-halah, novel ada latar belakang candinya juga…

  2. tyan's says:

    kunjungan pertamax…,

  3. Fancy Cat says:

    Mmmh…
    Aku iri pada bagian kamu menerima novel lengkap dgn tanda tangan sang penulis *trus dikirimin secara langsung pula oleh si penulis?Ck,ck,ck…* ^^

  4. kank_ripay says:

    salam kenal welha.. ekekekkeke

  5. baca referensi lo bikin gue jadi pengen baca tu buku vin… kayaknya bagus.

  6. FoO Iskandar says:

    Jadi penasaran pengen baca novelnya … mba bisa pinjem ga nih heu heu heu ……😀

  7. Wempi says:

    Wempi pingingya dikirimin buku yang diselipin cheque bukan tanda tangan, buat apa?😆

  8. GeLZa says:

    mau…………………………………….

  9. Iya Vinna.. hidup adal proses…
    Nikmati prosesnya, sesakit atau sesenang mungkin…
    nikmati dan dijalani dgn ikhlas🙂

    ciiiee ciiieee yg dpt ttd pengarang.. pritikiw!😉

  10. mandor tempe says:

    boleh pinjem? kalao boleh saya ngantri nomer satu😛

  11. lagi usil says:

    hmm, kayanya nih bukunya. btw warna orange ntu katanya simbol dari ketidakterikatan, biasa dipake para biarawan dalam tradisi yoga di India…kalee🙂

  12. Pingback: Ekspedisi Karanganyar – Minggu, 07/03/10.. « 212 Notes

  13. frozzy says:

    covernya bagus…sudah beredar di toko buku blm tuh buku ?

  14. Pingback: Review: Relief Kekasih – Kris Budiman.. « 212 Notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: