Cerpen: Aku Tanpamu & Kamu Tanpaku di Langit..

Pagi itu, kita sarapan bersama ditemani semilir angin perbukitan & kepakan kupu-kupu. Aku mencoba menikmati menu pagiku sambil mendengarkanmu bercerita. Menatapmu sesekali agar kau tak menyadari kealpaan setengah diriku di sana.

Aku diam menatapmu. Menatapmu yang sedang bekerja di depan notebook-mu sambil lagi-lagi bercerita tentang pekerjaanmu. Aku tak bisa mendengar kata-katamu, satu kata pun tak terdengar. Aku tak berada di sana, aku berada di dunia dimana ku tak inginkan kau ada.

Aku lalu pergi ketika matahari mulai tinggi. Menikmati suasana kota, kataku. Kau pun mengiyakan kepergianku sambil bertanya pukul berapa aku akan kembali. Aku hanya bisa mengangkat bahuku lalu berkata, “Aku berangkat.” Ku tutup pintu cepat-cepat. Tapi aku bukan ingin menikmati suasana kota, aku ingin berdua dengan diriku sendiri.

Aku terbangun pada pukul 3 dini hari ketika hujan membasahi bumi dengan derasnya. Aku mematikan TV yang masih menyala karena kebiasaanmu menonton TV hingga terlelap. Aku menatapmu tidur, terpejam dengan nyenyak di sampingku. Lama aku menatapmu.

Lelakiku, tahukah kau mengapa ku tak pernah lagi bisa membalas tatapan matamu? Tahukah kau mengapa seringkali ku kehabisan kata-kata menemanimu bercerita? Tahukah kau mengapa akhir2 ini aku sesekali menghilang untuk menyepi? Dan tahukah kau mengapa aku ingin berlama-lama menatapmu ketika kau terlelap?

Karena ku tak ingin kau tahu bahwa mataku berduka setiap kali melihatmu. Karena ku tak ingin kau mendengar getaran suaraku menahan sendu yang membiru. Karena ku tak ingin kau tahu bahwa seluruh tubuhku merejam sesak bertahan untuk tidak pergi. Karena malam ini mungkin adalah malam terakhirku menatap wajah laki-laki yang kukagumi dalam lelap tidurnya.

Aku menulis sepucuk surat ketika mentari belum terjaga, sebuah surat untukmu.
Lelakiku, andai masa ku genggam dalam asa, aku sungguh memilih untuk tak merasa. Sesapan sesal tiada guna ketika mimpi-mimpi menyapa. Bertanya terus menerus tentang mengapa, mengapa & mengapa. Dosa apa yang kita buat di masa lalu hingga kita harus menyatu tanpa bisa bersatu?
Lelakiku, aku tak bisa menahan luka lagi karena tak berada pada posisi yang tepat. Aku merana menahan logika yang hampir mati ditikam rasa. Tidakkah kau dengar rintihan pilu jiwaku yang tertatih-tatih ketika gagal mencoba melewati ambang amarah entah kepadamu atau pada diriku sendiri? Tidakkah kau lihat bosan pada nuraniku setiap kali ia gagal mengingatkanku untuk berhenti & pergi?
Lelakiku, sebelum tidur tadi aku berdoa kepada Tuhan kita, begini kira-kira bunyinya, “Tuhan, aku memohon kepadaMu, buatlah dia menjauhi & meninggalkanku, karena aku tak pernah sanggup melakukannya. Amin.” Aku berharap Ia mengabulkan permohonanku, bukan hanya untuk kepentinganku tetapi juga untuk kebaikan & kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu yang selama hampir 3 tahun ini menjadi prioritas utamaku.
Lelakiku, setiap inci tubuhku menginginkanmu. Tapi kau sungguh harus pergi meninggalkanku dalam duka & menghempaskanku di dunia nyata yang pastilah lara tanpamu. Karena aku tak punya asa & daya untuk pergi darimu. Maka pergilah, kembalilah ke tempat dimana seharusnya kau berada sekarang.
Dan jika kau tak pernah mendengar ini sebelumnya dariku, maka kini ku katakan bahwa aku sungguh sangat mengagumi & mencintaimu penuh di dinding-dinding pikiran & hatiku. Sungguh teramat sangat.
Selamat tinggal lelaki mengagumkan.

Kita berpisah di bandara internasional itu. Aku sisipkan suratku pada tas abu-abumu seiring langkahmu memasuki pesawatmu. Aku pun beranjak pergi memasuki pesawatku. Dua maskapai penerbangan berbeda yang akan membawa kita pulang ke kota yang sama. Hanya aku, kamu & Tuhan yang mengerti mengapa kita tak pernah bisa berada pada satu maskapai yang sama. Biar hanya kita & Tuhan yang tahu.

Mataku sembab ketika tiba di kota kita. Isak tangisku tak tertahan selama 45 menit perjalanan di udara. Aku melihat gambaran aku tanpamu & kamu tanpaku di langit.

52 Responses to Cerpen: Aku Tanpamu & Kamu Tanpaku di Langit..

  1. Mawi Wijna says:

    melankonis, tapi bagus

  2. Fancy Cat says:

    I feel what you feel…
    I cry when you cry…
    I’m hurt when you’re in pain…
    I’m glad when you’re happy…

    It was another beautiful writing from ya palπŸ™‚
    Think positive,do positive & be positive!

  3. essajiwa says:

    Abisin sedihnya…
    Sampai tetes terakhir…
    Sampai ga ada sedih lagi… πŸ™‚

  4. farus says:

    selamat pagi mba vivi.. kisah yang sangat mengharukan…..meskipun jauh dimuka tapi dekat dihati…semangat…..salam Kunjungan perdana…

  5. Gandi Wibowo says:

    Gw jadi teringet film bruce the mighty dimalem sebelum lu posting ini **Betul gak sih**, Do’anya samaan ama ceweknya bruce **Lupa namanya :p** diakhir cerita.

    Kenapa musti ada notebook? kayaknya emang masih ada hasrat beli notebook ya? hahahahaha…

    ANW Gw bingung, dia pergi, naik pesawat, berarti sicowok juga pergi naek pesawat juga, beda maskapai, tapi kekota yang sama dari kota yang sama.. gak mudeng Gw dav.

    Andai Gak ada komentar 2-3 atau status twitter lu, pasti Gw yakin ini cuma cerpen.

    • Vinna says:

      1. kemiripan sangat mungkin terjadi..

      2. hasrat bangettt..πŸ˜€

      3. gpp gan, ada hal2 yg ga perlu buat lo ngerti koq.. hehe..

      4. hmmm… jd ga yakin?

  6. mandor tempe says:

    Tumpahkan segala kesedihan yang ada itu mbak, setelah itu coba bangkit kembali. Tidak usah berlama-lama dalam kubangan kesedihan itu, kalau memang dia untukmu, pasti dia akan kembali.
    *cerpen apa bukan yah ?*

  7. brave..wish one day i make a decision such like that. ga ada kata2 yg mampu terlontar utk menghapus sedih itu. cmn bs bil i’m in the same situation. lewatin aja. siapa tau ada keindahan br d depan sana

  8. Triunt says:

    mbak Vinna bagus banget.
    ini fiksi kan mbak, iya kan..
    mbak Vinna hebaaatπŸ˜€

  9. Link-nya sudah dipasang 212NOTES…bisa lihat di-halaman =>LINK TEMANπŸ™„

  10. yos says:

    itu kisah pribadi ya teh…
    masih ada yang ngga berani diungkapakan nie…
    yaitu alasan?
    udah bersatu, bersama, dan kelihatnya ngga ada masalah?
    kok tiba2…
    apa gue yang bacanya kurang teliti ya…?
    hehehehehe

  11. GeLZa says:

    mampir…
    gede dah ngantuk…
    bacanya besok aja ya…πŸ˜€

  12. Hariez says:

    dari judul sampe ending gw simak baik-baik dan pas di ending ada satu kalimat yang bikin gw merinding, “Aku melihat gambaran aku tanpamu & kamu tanpaku di langit.” sama persis dengan judul yang kalo gw artiin itu semua menjadi kesendirian kelak…πŸ˜€

    -salam-

  13. heru says:

    mantep mba tulisannyaπŸ™‚

  14. edda says:

    kok saya jd sedih ya?😦

  15. quinie says:

    pina, sumpeh lu bisa nulis semacam ini? mantabbbsssss…….
    kereennn….

  16. zulhaq says:

    hmmm, cerpen yang mengharu biru…

    Biarlah kita dan Tuhan yang tau, kalo gw komen disini

    *senyumin vina*

  17. hanif says:

    Bagus mba..kayak kisah nyata bukan sekedar cerpen. Romantisme itu bisa muncul ketika kita sedang bercerita tentang sesuatu yang benar-benar kita alami. Itu yang sering terjadi padaku. Mungkin bisa dikatakan “menulis dengan hati”. Jadi tulisannya jujur dan bagus.

  18. Rafi says:

    Halah…koq gw jd ikut2an mellow gini bacanya yaa…;)

  19. vinaaaa
    tulisannya bagusss… deskripsi tentang perasaannya itu nancep banget.
    speechless deh, ga tau mo blg apa.

  20. setitikkehidupan says:

    melankonis banget tpi yach tetap memberi unsur yang positif…

  21. Cerpen in rupanya yang waktu itu lu ksh tau?
    😐

    Ikuti kata hati, pegang nilai2 kehidupan yang dipercayaiπŸ™‚

  22. amril says:

    Cerpennya indah dan menarik mbak

    Bila sempat, bisa baca juga cerpen2 saya “sejenis” ini di blog yang
    saya namakan sebagai “Narsis” alias Narasi Romantis. Silakan klik di

    http://daengbattala.com/?cat=55

    Thanks ya

  23. lia says:

    Vin… kamu ada bakat deh jadi penulis.. seriusin donk Vin… kita dukung 1000%

  24. ch0c0 says:

    be brave ..

    life must go on ..

  25. ch0c0 says:

    be brave ..

    life must go on ..

  26. mbah anto says:

    oh ini ta cerpen itu…

  27. Sasha says:

    kak, ini kerenπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: