Petualangan Kamis, 10/09/09 – Gereja Katedral

Selesai dari Museum Nasional, gw bingung mau kemana. Akhirnya gw menepi di halte bus persis di depan Museum Nasional sambil berpikir tujuan selanjutnya. Waktu menunjukkan pukul 11.30 dengan laporan cuaca panas terik berangin & gw sama sekali ga ingin pergi ke Kota Tua di siang hari bolong seperti ini. Tiba2 aja, gw terpikir untuk mencoba peruntungan gw berkunjung ke Gereja Katedral. Bingung dengan jalur Busway menuju kawasan Lapangan Banteng, akhirnya gw memutuskan untuk menggunakan taksi tarif lama untuk sampai ke tujuan. Lima belas menit kemudian gw tiba & membayar tarif taksi di angka Rp12.000,-. Masuk melalui gerbang utama, gw menyapa Pak Satpam untuk mendapatkan informasi apakah boleh untuk memotret di Gereja Katedral. Ternyata memotret di bagian luar gereja diperbolehkan, tapi kalau mau mengambil gambar di dalam gereja harus meminta izin dulu ke bagian paroki.

Ngga mau buang2 waktu, gw pun segera mengambil gambar dari luar gereja sambil mengagumi arsitektur gaya neo gothik yang klasik ini. Gw mulai mengagumi arsitektur gereja ini sejak kira2 umur gw 12 tahun. Selama ini gw cuma bisa mengaguminya dari dalam mobil jika orangtua gw mengajak gw untuk menikmati Es Krim Italy Ragusa yang terletak di Jl. Veteran. Kebetulan, gw & Alm. Papa adalah pencinta sejarah & bangunan2 bersejarah, & siang itu gw berharap Papa ada bersama gw untuk sama2 menikmati keindahan Gereja Katedral. ­čśÉ *I miss u, Dad..*

IMG_0087

Gereja Katedral

Puas motret sana & sini, lagi2 gw mencoba peruntungan gw untuk meminta izin masuk ke dalam gereja kepada bagian paroki. Kantor paroki berada di samping koperasi yang terletak persis di depan gua Maria. Gw mengintip waktu di E71 gw, pukul 12.00. Di kantor paroki, gw disambut oleh Mba Yanti, Mba Siswanti, Pak Tino & Mas Agung. Gw diizinkan masuk ke dalam gereja dengan syarat harus ada yang mendampingi agar tempat2 suci seperti altar dll. tidak sembarangan gw naiki. Sambil menunggu Mas Agung mencari orang yang akan mendampingi gw, gw pun bertanya2 perihal sejarah gereja ini & Mba Yanti malah menawarkan gw sebuah buku informasi lengkap Gereja Katedral seharga Rp10.000,-. Bukunya berupa buku saku dengan halaman berwarna yang memuat sejarah beserta keterangan arsitektur gereja. Melihat bukunya cukup informatif, gw pun membelinya. Tak lama kemudian, Mas Agung kembali & menawarkan diri untuk menemani gw berkeliling di dalam gereja karena petugas2 lainnya sedang makan siang.

Garis besar pembangunan gereja ini diawali oleh adanya kebutuhan sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan oleh umat Kristiani pada awal tahun 1800. Setelah beberapa bangunan gereja sebelumnya mengalami kerusakan seperti gempa bumi, kebakaran maupun keruntuhan, pada 16 Januari 1899 batu pertama diletakkan sebagai tanda dimulainya lagi pembangunan gereja oleh Ir. Marius Hulswit. Konstruksi bangunan terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan diberi pola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata inilah yang menunjang kuda2 kayu jati yang terbentang sesuai dengan lebar bangunan. Gereja Katedral dirancang dalam gaya neo gothik dengan bentuk dasar salib sepanjang 60 M & lebar 20 M. Di lantai 2, dengan ketinggian 7 M terdapat galeri sebagai tempat paduan suara. Atap gereja dibuat dari kayu, bukan dari batu seperti bangunan pada umumnya dengan alasan untuk mengantisipasi apabila terjadi gempa bumi. Gereja ini memiliki 3 buah menara, 2 buah menara di depan adalah Menara Benteng Daud (kiri) & Menara Gading (kanan), sedangkan menara di bagian belakang adalah Menara Angelus Dei. Gereja Katedral diresmikan pada 1901 dengan nama resmi ‘De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten Hemelopneming’ yang berarti Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga.

Ketika gw memasuki gereja, ada kira2 10 orang yang sedang berdoa di depan altar, & gw pun memulai penjelajahan gw. Lantai gereja merupakan lantai marmer berwarna hitam putih dengan ukuran 50 x 50 cm yang disusun secara diagonal. Lalu pada dinding bagian tengah gereja terdapat lukisan cerita Jalan Salib karya Theo Molkenboer, seorang pelukis dari Amsterdam. Keunikan lukisan ini adalah media lukisan yang dibuat di atas ubin2 yang kemudian disusun & dipasang di dinding pada tahun 1912. Kemudian pada sisi kiri gereja terdapat ruang pengakuan dosa menuju altar.

menuju altar..

menuju altar..

lukisan dinding Jalan Salib..

lukisan dinding Jalan Salib..

ruang pengakuan dosa..

ruang pengakuan dosa..

Setelah puas melihat2, Mas Agung mengajak gw naik ke lantai 2 untuk melihat altar dari atas. Ngga banyak yang bisa gw lihat di atas karena sedang ada kegiatan renovasi. Tiba2 aja, gw mendengar tawaran menarik dari Mas Agung, yaitu naik ke menara setinggi kurang lebih 10 M. Tanpa basa basi gw terima tawarannya tanpa peduli informasi yang diberikan oleh Mas Agung bahwa tangga naiknya adalah tangga satu. Akhirnya naiklah gw ke loteng gereja sebanyak 5 lantai dengan ketebalan debu loteng sekitar 1 cm. Gw kini berada di Menara Benteng Daud dengan pintu keluar menuju balkon yang berhadapan langsung dengan Menara Gading. Yeah!! Here I am at 33 feet high!! ^^ Dari ketinggian itu, gw bahkan bisa melihat gedung kantor gw. Hehehe..

altar dari lantai 2..

altar dari lantai 2..

Menara Gading dari Menara Benteng Daud..

Menara Gading dari Menara Benteng Daud..

Menara Angelus Dei

Menara Angelus Dei

Menara Gading dari balkon..

Menara Gading dari balkon..

Istiqlal dari Katedral..

Istiqlal dari Katedral..

Setelah puas menikmati suasana siang┬áJakarta dari atas, gw pun mengajak Mas Agung untuk┬ákembali┬ámenginjak daratan. ­čśÇ Selain karena angin yang terasa makin kencang, gw pun masih harus melanjutkan perjalanan gw ke Kota Tua. Well,┬ábisa masuk & memanjat menara bangunan┬áberarsitektur keren ini benar2 bakal jadi pengalaman mahal yang bisa┬ágw ceritakan ke anak gw nanti. Huhuyy!! ^^┬á

Terima kasih khusus buat Mas Agung yang sudah rela membawakan tas & sandal gw ketika gw memanjat tangga loteng menara. GBU.