Petualangan Kamis, 10/09/09 – Museum Nasional

Rabu, 09/09/09

18:45 — I’m saying this to myself, “Seharusnya ga perlu gw klik link itu yang pada akhirnya cuma bikin gw tau apa yang ga perlu gw tau. Gw lupa ma prinsip gw sendiri klo ‘What you don’t know can’t hurt you.’ Pengetahuan yang gw ketahui malam itu tidak berefek apapun selain sesak di dada, lemas di seluruh tubuh, banjir & bengkak di mata serta warna merah di hidung. WTF!!”

20:00 — Cubicle mate alias rekan kerja gw, Wachid, berteriak, “Vin, pulang jam berapa?”

20:30 — Semua kesedihan & kekecewaan ini harus segera dihentikan, otherwise I will lose myself soon. I’m sending an email to my boss: Pak, mohon izin cuti sehari besok karena ada keperluan, tks. My boss reply my email saying his approval couple minutes then. This is it, I’m gonna taking my life back!!

20:45 — Cubicle mate gw berteriak sekali lagi, “Vin, ayo pulang. Udah malam, cepetan gw tungguin!!”

21:00 — On my way home I’m sending short message to Reza, “Za, gw suntuk nih. Bsk gw cuti sehari, gw pinjem kamera lo ya. Bsk pagi gw ambil di dpn kantor.” SMS replied with an OK.

Yes!! Cuti dah disetujui & kamera dah dipinjemin. Berangkat!!

Kamis, 10/09/09

09:30 — Gw menjemput kamera pinjeman gw di lobby kantor & segera menuju lokasi #1. Museum Nasional.

Museum Nasional berada di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Museum ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah karena adanya patung gajah di depan gedungnya. Patung gajah itu sendiri adalah pemberian dari Raja Thailand (Siam) Somdej Praparamintramaha Chulalongkorn sewaktu beliau berkunjung ke Batavia pada Maret 1871. Museum ini memiliki bermacam2 koleksi dari bidang prasejarah, sejarah, arkeologi, etnografi & geografi.

Museum Nasional alias Museum Gajah

Museum Nasional alias Museum Gajah

Gw masih teringat dengan sebuah tulisan dari rekan kerja gw beberapa waktu lalu tentang refleksi apakah kita sebagai WNI sudah cukup mengenal & menjaga budaya kita sendiri sebelum kita berkoar2 perihal pencurian budaya dsb. Sewaktu gw membaca tulisan itu, gw merasa klo ternyata gw belum tau apa2 tentang kekayaan budaya negeri candi tercinta gw ini. Hal itulah yang membuat gw ingin mengunjungi ruang pameran etnografi terlebih dahulu sebelum melepas rindu dengan para koleksi arca di museum ini.

Pada ruang pameran etnografi, gw menemukan banyak pengetahuan budaya Indonesia yang belum pernah gw tau sebelumnya. Ada yang sudah tau belum kalau para pendahulu kita sudah mampu membuat motif dari manik-manik dengan tujuan sebagai penolak bala dengan hasil yang indah? Lalu apakah kita sudah tau perlengkapan2 apa saja yang digunakan pada saat membatik? Ini pertama kalinya gw tau klo membatik ternyata bukan cuma butuh kain, cat & canting. Perlengkapan membatik lainnya adalah gawangan yang berfungsi sebagai bingkai dari kayu untuk menjepit kain ketika proses pelukisan, lalu ada juga saringan lilin yang terbuat dari bambu untuk melakukan filtrasi dari lilin agar tidak ada kotoran yang bisa menyumbat lubang canting, kemudian juga ada bandul yang berfungsi sebagai pemberat kain agar kain tidak mudah tertiup angin ketika pembatik sedang bekerja. Selain batik, ada pula informasi perihal keris. Seingat gw, keris juga menjadi salah satu klaim budaya yang diperdebatkan beberapa waktu lalu. Namun ternyata dari papan informasi itu tertulis bahwa keris merupakan senjata tikam tradisional yang tersebar di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Philippine, Kamboja & Brunei. Jadi bukan ga mungkin kalau keris juga adalah budaya negara tetangga kita kan? CMIIW. Sebagai informasi, keris buatan Indonesia pada umumnya berlekuk 11 & 13.

Koleksi berikutnya adalah koleksi gamelan. Ini untuk pertama kalinya gw tahu kalau gamelan ternyata bukan cuma ada di Jawa, tetapi juga ada di berbagai daerah Sumatera, Bali bahkan Kalimantan, tentu saja dengan jenis2 alat musik khas daerah masing-masing. Koleksi berikutnya adalah salah satu jenis alat musik khas daerah Papua yaitu gendang Papua. Gendang Papua berasal dari kayu yang dibentuk menyerupai jam pasir. Walaupun memiliki 2 sisi, gendang ini hanya memiliki 1 sisi bermembran alias berkepala tunggal. Jika di daerah Jawa membran gendang berasal dari kulit sapi, kulit membran gendang Papua berasal dari kulit iguana, kadal, babi, buaya bahkan kasuari. Kulit2 hewan tersebut dilekatkan dengan campuran darah & kapur, kemudian dililit dengan rotan. Agar bentuk kulit terjaga & mampu menghasilkan suara yang diinginkan, kulit membran dioleskan dengan lelehan lilin lebah. Tradisional & unik kan?

Gamelan Jawa Tengah

Gamelan Jawa Tengah

Gamelan Jawa Barat

Gamelan Jawa Barat

Gamelan Kalimantan

Gamelan Kalimantan

Melangkah ke ruangan berikutnya adalah ruangan koleksi keramik. Koleksi keramik berupa guci, kendi, piring, mangkuk, teko, cangkir maupun gelas tertata rapih di dalam lemari-lemari kaca. Keramik2 ini pada umumnya berasal dari negera China, Vietnam dan Persia yang ditemukan tersebar di seluruh wilayah nusantara. Selesai berkeliling di ruangan keramik, gw melangkah ke lokasi tempat para arca berkumpul. Arca yang terdapat di Museum Nasional ini sangatlah beragam, yaitu arca khas agama Hindu & Buddha yang ditemukan di seluruh pelosok nusantara termasuk juga arca Ganesha. Beberapa waktu lalu gw baru saja membaca informasi yang mengatakan bahwa arca Ganesha yang asli terciri dari salah satu gadingnya yang patah. Ada beberapa mitos tentang patahnya gading Ganesha, salah satunya adalah karena digunakan untuk menulis kitab. Jadilah hari itu gw menyempatkan untuk memperhatikan setiap arca Ganesha yang ada di Museum Nasional & hasilnya para Ganesha hanya memiliki satu buah gading.

Ruang Pameran Keramik

Ruang Pameran Keramik

Penemuan Keramik di Trowulan

Penemuan Keramik di Trowulan

Arca Ganesha

Arca Ganesha - Gadingnya patah sebelah kan?

Setelah puas temu kangen dengan para arca, gw naik menuju ruang khasanah di lantai 2. Ruang khasanah adalah ruang pameran benda2 bersejarah yang berlapis emas, perak & perunggu. Pada ruang khasanah pertama terdapat berbagai macam benda sejarah dari seluruh Indonesia yang berlapis logam2 mulia, mulai dari perhiasan, peralatan perang, peralatan makan, hulu keris, mahkota hingga patung. Sedangkan di ruang khasanah kedua terdapat benda2 arkeologi yang berlapis emas & perunggu. Ada yang masih asing dengan kata peripih ga? Peripih adalah isi dari lubang atau sumur yang terdapat di dalam sebuah candi, & ini adalah kali pertama gw melihat seperti apa bentuk peripih2 yang terbuat dari emas. Peripih pada umumnya adalah benda2 magis berupa lembaran emas bertulisan, mata uang, serta lempengan emas berbentuk simbol2 kedewaan seperti durga, siwa, nandi & naga. Koleksi berikutnya adalah arca2 Budhha emas & lempengan2 emas dewa2 Hindu yang ditemukan di pelosok Pulau Jawa yang kira2 berasal dari abad 8-9 M. Buat yang penasaran & belum pernah melihat seperti apa arca emas & perunggu yang ditemukan di masa lampau, datang deh ke sini & buktikan sendiri betapa menakjubkannya kemegahan & keragaman sejarah Indonesia. NB. Khusus di area ini gw patuh pada aturan untuk tidak mengambil gambar sama sekali, jadi klo penasaran silakan berkunjung ke sini.

Kunjungan gw pun selesai. Percaya atau ngga, ketika gw berkunjung ada banyak sekali rombongan study tour anak2 sekolah. Dari sekian banyak rombongan ini, cuma ada 1 rombongan yang berisi anak2 WNI dari SD Tunas Bangsa, sedangkan rombongan lainnya adalah rombongan anak2 WNA. Gw sempat berbincang sebentar dengan Ibu Hanni, salah 1 guru SD Tunas Bangsa yang sempat mengira bahwa gw adalah wartawan. *Hehe.. Saya mah wartawan stress, Bu.. :P* Ibu Hanni bercerita bahwa study tour ini adalah salah satu program rutin di sekolahnya agar murid2 tertarik mempelajari sejarah yang terkesan membosankan & ternyata mendapatkan respon antusias yang baik dari murid2nya. Sedangkan pada rombongan study tour anak2 expatriate, ada keunikan dari salah 1 pemandunya, pemandu tersebut menggunakan atasan blus dengan aksesori kalung etnik khas Kalimantan & lilitan sarung batik berwarna biru. *Pemandu yang sangat representative..*

Bagi yang belum pernah ke sini, yuk, luangkan waktu berkunjung, sedangkan untuk yang sudah pernah, museum ini ga pernah membosankan koq untuk dikunjungi lagi. Tiket masuknya cuma Rp750,- & lokasinya termasuk di jalur Busway koridor I, cukup turun di halte Monas & Museum Nasional ada di seberangnya. Museum ini tutup setiap hari Senin selayaknya seluruh museum di Jakarta.

Ini tiketnya..

Ini tiketnya..

Yuk.. Kenali negerimu, cintai negerimu!! ^^

9 Responses to Petualangan Kamis, 10/09/09 – Museum Nasional

  1. mawi wijna says:

    wekekeke, kayaknya mo nyaingi artikelku ttg Museum Nasional ni, semoga bisa lebih dari 1500 hit. He3.

    • Vinna says:

      wah.. aku ga kepikir ke sana, dek.. malah ga tau klo km ada artikel ini jg.. amin..

      • udi says:

        selamat malam,mba Vinna.
        aku trtarik bergabung dalam kelompok pecinta candi.
        kapan kita kopi darat lagi.tq salam kenal.

  2. Gandi Wibowo says:

    Gw dah pernah dav, tapi dulu pas SD, blom pernah lagi tuh masuk Museumnya..
    Ada ya arca perunggu **tetep gak percaya, gak ada fotonya :D**

    Ngomong2 kenapa tiketnya murah bangat? masih mahalan ke Ragunan, sampe 5000..

    Oh iya.. prolognya gak nyambung ah..

    • Vinna says:

      duhh.. ayok kpn ksana, biar gw tunjukin tu arca perunggu di dpn mata lo.. hihhh..

      knp tiketnya murah? mn gw tau, gw kan bukan kuratornya..

      prolog? no comment..

  3. essajiwa says:

    prolognya doang yang gue ngerti vin.. :p

  4. antown says:

    thx infonya, saya berencana mau kesana dalam waktu dekat ini. menarik sepertinya untuk diabadikan dalam sketsa

  5. salam kenal… :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: