Cerita Masa Kecil..

Hari Sabtu kemarin (30/05/09), gw dan rombongan keluarga gw dari pihak nyokap pergi ke Bogor untuk menghadiri pernikahan sepupu gw. Excitement gw di hari itu bukan cuma karena sepupu gw menikah yang otomatis sekaligus akan menjadi kumpul2 keluarga besar Darama dari Padang, tapi juga karena acaranya diadakan di Bogor, kota masa kecil gw. Menempuh perjalanan dari Bekasi via tol lingkar luar TB Simatupang, jalanan pagi itu boleh dibilang cukup lancar sampai perpecahan jalan tol yang ke Puncak dan Sukabumi. Kami sekeluarga mengambil jalur ke arah Sukabumi, dan jalan kenangan itu pun dimulai. Jika mengikuti pecahan jalan tol yang ke arah Sukabumi, kita nanti akan bertemu dengan perempatan lampu merah Gadog/Ciawi yang klo lurus itu ke Sukabumi, belok kanan ke Tajur dan belok kiri ke arah Puncak sekaligus menuju rumah masa kecil gw. Perempatan itu punya kenangan tersendiri buat gw, gw menyebutnya dengan perempatan macan karena di tengah2 lampu merah itu ada tugu macan yang menurut Alm. Papa, tugu macan itu adalah macan Siliwangi sebagai simbol kota Bogor. Nah, sebelum lampu merah itu kita bisa melihat ada mesjid besar bercat putih di sisi kiri jalan dan tepat di belakang mesjid itu ada sebuah TK tempat gw sekolah dulu yaitu TK Amaliah. Klo mengulang kenangan masa kecil gw di TK dulu, gw jadi sedih karena masa2 itu adalah saat2 terakhir gw bersama Alm. Kakek dan Almh. Nenek gw alias orangtua Alm. Papa. Masa kecil gw di Bogor gw lalui dengan sangat menyenangkan. Gw tinggal di sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas bersama 4 rumah lainnya dan sebuah empang untuk beternak ikan mas dan ikan nila. Rumah yang gw tempati bersama Mama, Alm. Papa, Alm. Kakek, Almh. Nenek, Om Rustam, Tante Lina dan 3 orang sepupu gw, Desy, Novi dan Uli adalah rumah utamanya. Rumah utama ini terletak di tengah2 lokasi dan diapit oleh 4 rumah lainnya . Salah satu rumah dari ke-4 rumah itu adalah rumah Almh. Uyut yang terletak di depan, sedangkan 3 rumah lainnya dikontrakkan.

Let me explain one by one. Rumah utama yang gw tempati adalah rumah yang paling luas dibandingkan 4 rumah lainnya, rumah itu terdiri dari 5 kamar tidur dengan 6 kamar mandi. 5 kamar tidurnya adalah kamar gw dan orangtua gw, kamar Alm. Kakek dan Almh. Nenek, kamar Om Rustam dan Tante Lina beserta sepupu2 gw, kamar tamu dan kamar pembantu yang ditempati oleh Bik Kokom, sedangkan 2 orang pembantu lainnya yaitu Mang Kiwik dan Mba Iyah pulang hari karena rumah mereka masih berada di perkampungan sekitar. Kamar2 ini punya kamar mandi masing2 di dalamnya plus 1 kamar mandi di ruangan tengah. Selain kamar, ada juga garasi, teras, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur bersih, dapur kotor, tempat cuci dan teras samping. Yang paling gw ingat dari rumah Almh. Uyut adalah ubinnya yang masih ubin lama yang berwarna abu2, yang dulu lebih dikenal dengan sebutan tegel. Well, dari ukuran dan jumlah orang yang tinggal di dalamnya rumah ini memang cukup ramai. Oiya, keramaian yang gw sebutkan ini belum termasuk 2 ekor anjing kampung yaitu Bleki dan Tutu. *I miss those good old memories.. :(*

Menurut cerita dari nyokap gw, gw tinggal di sini kurang lebih 3 tahun sejak tahun 1986 sampai tahun 1989, tahun di mana gw pindah ke Jakarta untuk masuk SD. Ngga banyak memang yang gw ingat tentang masa kecil itu, tapi beberapa kenangan masih sangat membekas di ingatan gw, seperti kondisi kedua orangtua gw yang bekerja dan seharian itu gw diurus oleh Almh. Nenek, Tante Lina dan Bik Kokom. Lalu, ingatan tentang Alm. Kakek yang selalu pulang kerja sebelum gelap yang selalu disambut oleh gw dan Desy untuk sebuah salam yang namanya ‘Angkat yang Tinggi’, di mana di pintu depan itu Alm. Kakek akan mengangkat gw dan Desy bergantian setinggi2nya. Dan ini adalah kenangan gw yang paling indah dengan Alm. Kakek, gw ingat klo gw ga pernah mau ketinggalan untuk menyambut beliau pulang. Ingatan tentang Almh. Nenek adalah kebiasaan kami, gw, Desy dan Almh. Nenek untuk minum kopi buatan beliau sebelum tidur siang. Rutinitas minum kopi ini boleh dibilang sedikit aneh, karena gw dan Desy meminum kopi buatan Almh. Nenek dengan cara diseruput dari piring alas cangkir kopinya, dan kami berdua cuma boleh meminum kopi itu sebanyak 1 piring dalam 1 hari. Lalu ingatan gw tentang Almh. Uyut adalah panggilan kesayangannya buat gw yaitu ‘Nok’ yang artinya ‘Nak’ dalam bahasa Cirebon. Pada saat itu kedua orangtua gw bekerja di Jakarta, jadi sangat bisa dimengerti klo seringkali gw sudah tidur sebelum mereka berdua pulang. Gw ingat, klo gw lagi kangen mereka, gw ngotot untuk menunggu mereka pulang bahkan sampai ngantuk2 tidur di meja depan TV yang saat itu cuma ada TVRI dan siarannya sudah habis ditemani oleh Mang Kiwik yang terus membujuk gw untuk tidur di kamar. Kecuali hari libur, gw cuma bertemu dengan orangtua gw pagi hari, dimulai saat bangun sampai mereka mengantar gw sekolah ke TK Amaliah itu. Kenangan Bogor sebagai kota hujan juga masih ada di ingatan gw, setiap habis kami makan siang, Bogor selalu hujan jadilah gw dan Desy berlari2 membantu Bik Kokom mengangkat jemuran saat gerimis mulai datang. Ingatan lain adalah pada waktu panen ikan mas dan ikan nila, Mang Kiwik sibuk menjaring ikan2 itu baik untuk dijual, dimakan sendiri dan dibagikan kepada tetangga2 sekitar. Setelah seluruh ikannya dijaring, kolamnya harus di kosongkan dan dibersihkan dulu, alhasil Mang Kiwik dan tetangga2 sekitar turun ke empang dan bergelut dengan lumpur untuk membersikan empang. Selain ikan mas, ada juga pohon sukun yang sering berbuah, jadilah sukun goreng dan teh manis sebagai cemilan rutin seisi rumah setiap sore. Dan satu ingatan terakhir yang menyenangkan adalah saat hari Sabtu dan Minggu. Rumah kami kebetulan terletak di pinggir jalan raya tepat sebelum lampu merah Gadog yang ke arah Puncak, dan setiap Sabtu dan Minggu itu polisi setempat memberlakukan sistem buka tutup setiap 1 jam sekali untuk mengurangi padatnya lalu lintas menuju Puncak maupun sebaliknya. Jadi, setiap hari Sabtu dan Minggu, kami membuka lebar pagar rumah kami supaya para pedagang makanan seperti tukang kacang rebus, tukang es krim Woody, tukang minuman dingin, dll bisa menjajakan makanannya di dalam pagar rumah kami dan kami pun bisa jajan sepuasnya..😀

Denah Rumah Bogor

Denah Rumah Bogor

 

Gw & Desy di teras dgn seragam TK Amaliah.. :D

gw & Desy di teras dgn seragam TK Amaliah..😀

 

gw & Desy di teras rumah Uyut yang menghadap ke jalan raya.. ^^

gw & Desy di teras rumah Uyut yang menghadap ke jalan raya.. ^^

Tapi semua masa2 indah itu tiba2 saja habis ketika musibah beruntun menimpa keluarga kami yang berawal dari penantian panjang di suatu sore. Sore itu tanpa firasat apapun, aku, Desy dan Almh. Nenek menanti kedatangan Alm. Kakek seperti biasanya. Kata Nenek hari itu, Kakek akan pulang dengan membawa sate ayam, jadilah kami bertiga menunggu kepulangan Kakek dengan antusias. Tapi sampai Magrib, Kakek belum juga pulang, bahkan sampai gw dan Desy ga sanggup lagi menahan kantuk. Tiba2 keesokannya di saat Subuh, gw terbangun ketika Nenek bangun karena ada tamu, malam itu gw dan Desy memang tidur bersama Nenek. Gw pun ikut bangun dan mengintip di depan pintu kamar, tamu Nenek saat itu adalah bapak2 berseragam polisi. Mereka berbicara dengan Nenek di depan pintu dan tak lama kemudian Nenek berteriak2 histeris dan jatuh pingsan. Saat itu juga gw tau bahwa ada sesuatu yang ga beres. Gw ga bisa lagi mengingat apa yang terjadi setelah itu. Yang gw tau keesokan harinya adalah bahwa Kakek mengalami serangan jantung dalam perjalanan pulang yang mengakibatkan kecelakaan dan akhirnya dirawat di rumah sakit, tapi gw dan Desy ga bisa sama sekali menengok Kakek ketika dirawat, alasannya karena usia kami yang masih kecil. Lewat beberapa hari, tiba2 aja gw dan Desy diperbolehkan untuk menengok Kakek, dan ternyata itu adalah saat terakhir gw bisa bertemu dengan Kakek dalam keadaan hidup. *Kek, i love u..* Saat2 di rumah sakit itu, Kakek tidak bisa bicara sepatah kata pun, tinggallah gw yang bingung melihat Kakek yang terbaring lemas tak bisa bicara dan Nenek dengan keadaan yang sepertinya sangat lelah. Saat itu Kakek cuma bisa melihat gw dengan tatapan kosong tanpa bicara.😦 Seingat gw, tak lama berada di rumah sakit itu, kami pun pulang. Besoknya, hari Sabtu, entah jam berapa, aku diberitahu Mama klo Kakek meninggal. I was 5 that time. Jenazah Kakek disemayamkan di rumah duka di Pejaten, rumah Pejaten adalah rumah dari Mbah Kung, kakak Nenek yang sekaligus adalah sahabat Kakek di klub bola yang mereka ikuti. Esok harinya, hari Minggu pagi saat akan pergi menuju Pejaten, tiba2 aja ada kabar yang sangat mengejutkan: Subuh tadi, Nenek meninggal. Mereka berdua pergi, Kakek dan Nenekku. Saat gw tiba, rumah Pejaten seketika itu juga menjadi rumah yang penuh dengan kedukaan, saat itu gw melihat semua orang yang gw kenal menangis, dan saat itu juga gw melihat ada 2 jenazah berdampingan. It’s them. Satu cerita yang gw ingat tentang hari duka itu adalah cerita dari Mbah Ti, istri dari Mbah Kung, tentang keinginan Kakek dan Nenek yang mereka ucapkan di Tanah Suci Mekkah, yaitu mereka ingin selalu bersama sampai maut menjemput. Entah benar atau ngga cerita Mbah Ti itu, kenyataannya mereka memang ditakdirkan untuk pergi bersamaan dalam waktu kurang dari 24 jam.

Selepas kepergian Alm. Kakek dan Almh. Nenek, keadaan rumah Bogor jadi ga sama lagi. Walaupun masih ada Uyut pada saat itu, rasanya rumah Bogor sudah kehilangan auranya. Tapi ternyata kedukaan yang merenggut masa kecil gw dan ketenangan keluarga kami belum selesai. Kami sekeluarga harus menerima fakta bahwa sertifikat rumah Bogor ternyata dijadikan jaminan ke bank sebagai kebutuhan modal usaha oleh Alm. Kakek dan sekaligus menerima fakta bahwa partner usaha Alm. Kakek melakukan penipuan yang berujung pailit sehingga rumah Bogor pun harus disita. Rumah Bogor akhirnya memang tidak jadi disita oleh bank karena ada pihak keluarga yang bersedia membeli rumah tersebut dan membayarnya ke bank, tapi tetap saja, dikarenakan rumah itu bukan lagi milik Alm. Kakek dan Almh. Nenek, keluarga gw dan keluarga Desy harus pindah dari rumah itu. Pada tahun 1989, pindahlah kami semua ke Jakarta dan itulah akhir dari cerita masa kecil gw di Bogor.

Tragis? Menurut gw, iya. Gw mengalami kehidupan yang jauh berubah ketika pindah dari Bogor. Gw dan kedua orangtua gw harus berpindah2 untuk menumpang tinggal di rumah saudara, di Duren Sawit, di Pondok Bambu, di Klender dan di Cipinang karena kami belum memiliki rumah sendiri. Impian Alm. Kakek dan Almh. Nenek untuk menjadikan rumah Bogor itu sebagai usaha penginapan musnah sudah. Kini, hari Sabtu (30/05/09) kemarin lebih tepatnya di saat gw melintas di depan pagar itu, gw melihat keadaan yang sangat jauh berbeda. Rumah itu sudah bukanlah milik keluarga gw yang waktu itu membeli rumah ini dari sitaan bank, rumah itu sudah dijual lagi, entah sudah dijual ke tangan ke berapa. Kini rumah itu sudah menjadi toko, sebuah pengalihan fungsi yang ironis atas tempat yang memiliki kenangan indah di masa kecil gw.

10 Responses to Cerita Masa Kecil..

  1. wijna says:

    masa lalu yang menyedihkan mbak…sob!

  2. essajiwa says:

    Vinn kok ceritanya sedih siih.. padahal awal2nya seru. Itu pas panen ikan seru kan, gw juga pernah di tempat nenek gw di Sukabumi pas masih SD, kalo bahasa sundanya namanya “ngabedahkeun”.

    Kapan ya bisa kayak gitu lagi, gw juga dua-duanya udah ga ga ada euy, nenek-kakek gw, rumah nenek jadi ga seru lagi😦. Emang ya dulu itu paling seneng ke tempat nenek, pas ada tugas ngarang cerita di SD pasti judulnya kalo gw: “Berlibur Ke Rumah Nenek” hehehe… (ga pernah ganti, ga kreatif)

  3. dian says:

    iya… Vinna, aku kebanting. kirain cerita bahagia sampe akhir.
    harusnya dibikin dua cerita aja. hiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: