YK 2009 Trip Day 4 – 22/04/09

Yuhuuu.. Hari keempat!! Setelah kopdar dengan sukses di hari ketiga dan masih dengan semangat pencinta candi yang dideklarasikan kemarin, hari ini perburuan candi pun dilanjutkan. Hari ini terbilang santai, dimulai lagi2 jam 11 siang, gw dan Aan mengawali perjalanan hari ini dengan makan siang di Gudeg Yu Jum di kawasan Selokan mataram, UGM. Gw sudah sering mendengar nama Gudeg Yu Jum ini disebut2 sebagai salah satu tempat makan andalan di Yogyakarta, tapi baru kali pertama inilah gw makan di sini. Gw memilih menu gudeg dengan telur dan sayap ayam, ditemani oleh minuman kesukaan gw yaitu teh tawar panas. Berkomentar tentang citra rasa Gudeg Yu Jum rasanya cuma akan menambah panjang referensi2 tempat makan yang sudah ada, jadi gw akan mengomentari suasananya aja. Suasana makan siangnya cukup menyenangkan, makanan yang enak dan rumah makan yang teduh, tapi yang bikin istimewa adalah adanya pengamen khas Yogyakarta yang menghibur para tamu. Para pengamen itu bernyanyi lengkap dengan alat2 musik ala pengamen di Malioboro, siang itu lagu yang mereka bawakan terdengar indah banget, Falling in Love-nya J-Rocks, dan lagu ini bikin gw teringat kepada seseorang yang sangat identik dengan kota Yogyakarta, seseorang yang bikin gw selalu ingin kembali ke Yogya walaupun orang itu ga ada di Yogya. I wish you were here with me now and reminiscing our time 2 years ago.

Selesai makan dan puas menikmati hiburan dari pengamen, gw dan Aan pun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Sejak pertama kali gw berkunjung ke Yogya, gw sebenarnya pengen banget menelusuri Selokan Mataram. Teringat akan niat yang belum kesampaian inilah gw lalu meminta Aan untuk mengajak gw menelusuri Selokan Mataram. Berawal dari kawasan Selokan Mataram di UGM, gw pun mendengarkan cerita Aan tentang rupa Selokan Mataram beberapa tahun yang lalu ketika Aan masih kuliah di UGM. Menurut Aan, dahulu kedua sisi jalan Selokan Mataram belum diaspal dan masih berupa jalan tanah dengan sawah2 disekitarnya. Sekarang lahan sawah itu sudah beralih fungsi menjadi rumah kos2an dan ruko2 untuk usaha, walaupun masih ada beberapa lahan sawah yang tersisa. Menurut sebuah sumber di internet, Selokan Mataram dibangun oleh Sri Sultan HB IX untuk menyelamatkan ribuan masyarakat dari kewajiban penempatan kerja romusha dengan cara memanipulasi informasi adanya kekeringan di wilayah Yogyakarta yang mengakibatkan pasokan hasil pertanian bagi Jepang berkurang. Selokan Mataram ini dibangun pada tahun 1944 dengan panjang 30.8 km yang mampu mengairi areal pertanian seluas 15,734 ha dengan menyatukan Sungai Progo dan Sungai Opak. Selusuran gw dan Aan ini berakhir di Maguwo untuk menuju lokasi selanjutnya.

Tujuan kami selanjutnya adalah Gua Sentono yang terletak di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Gua Sentono ini adalah 3 buah gua kecil atau cerukan yang dipahat di lereng bukit batu. Berdasarkan sumber dari internet yang gw baca, Gua Sentono ini dibangun menghadap ke arah barat dan berada dalam 1 garis sejajar ke arah utara – selatan. Di dalam kedua gua yang berada di sebelah utara, terdapat pahatan berupa lingga dan yoni yang menempel di lantainya, sedangkan gua paling selatan kosong. Relief yang menghiasi gua tersebut adalah relief Durga, Agastya dan Nandiswara, walaupun pada saat gw ke sana relief yang gw kenali hanyalah relief Durga. Berhubung gw masih takut dengan pengalaman buruk kemarin sore, jadilah gw ga berani mendekati ketiga gua itu walaupun di Gua Sentono ini ga berasa hawa2 mistisnya. Oiya, di lokasi ini juga gw menemukan banyak tumbuhan yang sudah lama banget ga bisa lagi gw temui di Jakarta ataupun di Bekasi, yaitu Daun Putri Malu. Hehehe.. 😀

Gua Sentono

Gua Sentono

3 buah gua-nya..

Gua Sentono: check list. Hehe.. Sekarang waktunya melanjutkan perjalanan ke Candi Abang yang terletak di atas bukit ini. Lokasi administratif Candi Abang ini sama dengan Gua Sentono, yaitu di Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Perjalanan dari lereng bukit sampai ke atas menurut gw edan!! Kenapa? Karena bukitnya isinya batu semua, bener2 terjal. Saking ga tahannya gw dengan guncangan di motor, akhirnya gw memilih untuk berjalan kaki saja sementara Aan masih ngotot meneruskan perjalanan dengan motornya. *Ya iyalah Aan ngotot, masa lantas motornya ditinggal begitu aja? Hehehe..  :P* Setelah berjalan dengan sok tau karena gw sebenarnya ga tau arahnya kemana dan dengan Aan yang lagi sibuk offroad di belakang gw, akhirnya gw mulai bisa melihat bukit yang adalah Candi Abang itu. Setelah putus asa dengan offroad-nya yang ga sukses, akhirnya Aan pun memarkir motornya dan menyusul gw berjalan kaki. Dan setelah memanjat bukit, akhirnya gw sampai di puncak Candi Abang dengan view yang mantap banget!! Gw berasa kaya lagi di Austria, lokasi syuting film The Sound of Music itu. Hehe.. 😛 Candi ini dinamakan Candi Abang karena terbuat dari abang alias batu bata merah yang kini sudah ditumbuhi rumput sehingga dari kejauhan hanya terlihat seperti bukit hijau. Berhubung tidak adanya papan informasi maka menurut sumber yang gw baca, Candi Abang merupakan candi tunggal yang berbentuk seperti piramid dengan alas 36 x 34 meter. Pada bagian tengah candi, terdapat sumur dan tangga masuk yang terbuat dari batu gamping, sayangnya sumur itu kini sudah tidak lagi berbentuk seperti sumur cuma seperti cerukan tanah biasa. Masih menurut sumber yang sama, di candi ini pernah ditemukan yoni sehingga disimpulkan bahwa candi Candi Abang ini merupakan peninggalan agama Hindu.

Candi Abang

Candi Abang

view dari Candi Abang..

me, enjoying the peaceful view.. ^^

Sebenarnya gw dan Aan males banget buat meninggalkan lokasi candi ini, tapi berhubung nanti malam Aan akan pergi ke Kutoharjo maka kami pun terpaksa pulang kira2 jam 3 sore. Yak, lagi2 sebuah hari yang luar biasa di liburan Yogyakarta ini. Love Yogya even more!! 🙂

Filed under fUn Tagged with

Eksistensi dan Photo Session.. ^^

Selasa, 2 Juni 2009

“Jadi kemana nih?” tanya gw kepada sang fotografer andalan Brand yang lagi niat hunting foto.

“Museum Gajah aja yang deket.” jawabnya.

“Tapi Museum Gajah itu mostly isinya arca dan indoor. Gimana klo Taman Prasasti aja?”

“Gw belum pernah, emang kaya gimana sih?”

Gw pun langsung mencari folder foto Taman Prasasti saat terakhir gw berkunjung ke sana untuk memberikan gambaran seperti apa Museum Taman Prasasti itu. Lihat-lihat dan bolak balik foto, akhirnya teman gw ini berkata: “Ya udah, ke sini aja. Lo infoin yang lain ya.”

 

Rabu, 3 Juni 2009 11:30 WIB

Setelah makan siang di pinggir kantor, kami berlima yaitu gw, Diah, Anya, Firli dan Mr. Photographer pun menuju Museum Taman Prasasti dengan menggunakan taksi tarif lama. Jarak tempuh dari kantor hingga sampai di depan Taman Museum Prasasti ternyata cuma berongkos Rp6000,- saja, sedangkan tiket masuknya Rp2000,- per orang tanpa ada biaya tambahan untuk yang bawa kamera. Ternyata tepat sebelum kami berlima datang, ada kegiatan shooting acara TV Riwajatmoe Doloe yang tayang di TV One lengkap dengan pembawa acaranya yaitu Anto Jadoel. Ya berhubung gw suka menonton acara itu, gw sapalah Anto Jadoel itu dan ngobrol2 sebentar. *Sok akrab dikit.. Hee.. :P* Tapi ternyata dari kumpulan orang2 yang habis shooting itu ada 1 orang lagi yang gw kenal, yaitu Kang Asep, pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI). Jadilah gw ngobrol2 dulu dengan Kang Asep perihal acara KHI yang akan dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 2009 besok, gw sekaligus diwawancara oleh reporter Majalah Travel Club perihal alasan kenapa gw mencintai sejarah Indonesia. *Yihaaa.. Hidup eksistensi!! ^^* Setelah ngobrol2 dan wawancara selesai, gw pun menyusul teman2 gw itu yang sudah memulai photo session-nya.

Overall, photo session ini seru banget. Tapi yang paling bikin seneng adalah karena hasil foto2nya yang keren. Kombinasi yang pas dari para model dan fotografernya. ^^

Buat Diah, Anya, Firli dan Mr. Photographer, thank you for a fun Wednesday, guys!! Silahkan ditentukan waktu dan tempat photo session berikutnya. Hehehe.. 😀

anya - firli - gw - diah

anya - firli - gw - diah

 

searah jarum jam: diah - anya - gw - firli

searah jarum jam: diah - anya - gw - firli

Foto2 di bawah ini gw tambahkan karena ada request penambahan foto dari Mr. Photographer, dengan alasan karena judul tulisan gw ini kan Photo Session, jadi fotonya harus agak banyakan, klo cuma dikit kan namanya Photo Sample.. Hehehe.. 😀
katanya pnambahan fotonya tserah gw, jd foto ini yg gw pilih.. xixixi.. :P

katanya pnambahan fotonya tserah gw, jd foto ini yg gw pilih.. xixixi.. 😛

 

ceritanya gw & anya disuruh liat2an, tp ga bisa.. sejenis, cuyyy.. wakakak.. :D

ceritanya gw & anya disuruh liat2an, tp ga bisa.. sejenis, cuyyy.. wakakak.. 😀

Hutang penambahan foto lunas ya, Mr. Photographer.. 😀

Filed under fUn

YK 2009 Trip Day 3 – 21/04/09

Hari ketigaaa.. Hari ketiga = kopi darat dengan teman2 pencinta candi. 😀 *Hehe.. Yeup! I can’t wait to meet them soon..* Semalam sebelum tidur, gw memastikan lagi ke Maw perihal waktu dan tempat pertemuan kopi darat ini. Nah, klo pencinta buku kopdar-nya di toko buku, pencinta kopi kopdar-nya di coffee shop, maka seperti diduga, pencinta candi ya kopdar-nya di candi, tepatnya di Candi Sojiwan pukul 1 siang. Berhubung kegiatan hari ini dimulai siang hari, gw masih bisa melakukan aktivitas pagi dengan santai, termasuk mencuci celana jeans gw yang penuh tanah dimana-mana akibat kerasnya medan pada perjalanan di hari pertama.Aan menjemput gw di rumah Sleman pukul 11 dan sebelum menuju lokasi pertemuan, gw dan Aan memutuskan untuk makan siang dulu di McD Malioboro Mall. *Jauh2 ke Yogya koq makannya McD.. :D* Gw memilih untuk mencoba menu McD terbaru yaitu Triple Cheese Burger sebagai menu makan siang gw, dan rasanya enak karena kejunya berasa banget. *Slurppp..* Waktu lagi asik2nya menikmati makan siang sambil mendengarkan Aan curhat soal kehidupan percintaannya, tiba2 aja ada SMS masuk dari Maw. Isinya: “Mbak, agak telat ya, beberapa br kluar kuliah, ntar tunggu aja di luar candi.” *Beberapa baru kluar kuliah? Wah.. Berarti banyak nih pasukan pencinta candi-nya.* Gw pun semakin excited seiring dengan cerahnya langit Yogya siang itu. Selesai makan siang dengan puas, gw dan Aan beranjak menuju Candi Sojiwan pukul 12.30. Baru saja keluar dari parkiran, tiba2 Aan mengeluhkan ban motornya yang lagi2 kempes, dan akhirnya gw dan Aan harus mencari tukang ban yang ternyata ada di depan hotel Ibis Malioboro. Setelah masalah ban motor beres, kami pun menuju lokasi dengan panduan gw berdasarkan hasil pencarian kemarin. 😀 Beberapa meter sebelum tiba di gerbang Candi Sojiwan, gw melihat ada 2 orang laki2 yang rupanya sudah ga asing lagi karena seringnya mereka berdua muncul di sebuah web. *Tapi koq cuma 2 orang ya? Oh, mungkin yang lain belum sampai..* Setelah turun dari motor dan yakin bahwa yang gw temui itu memang Maw dan Andreas, gw pun bertanya: “Mana yang lain??”  Jawaban Maw cukup bikin gw sedih, “Ga ada yang lain, Mba. Cuma kita berdua.” *Jiahhh.. Katanya beberapa, koq jadi cuma 2 orang..* Dan itulah awal cerita pertemuan gw dengan Maw dan Andreas. 😀 Setelah ngobrol2 selama 15 menit sebagai awal perkenalan, gw pun mengajak Maw dan Andreas untuk menemani gw dan Aan untuk mengunjungi Candi Ijo. Dan ke sanalah tujuan kami berempat selanjutnya.

Menurut gw, perjalanan ke Candi Ijo ini sedikit luar biasa. Kenapa? Karena gw diantar langsung oleh pemilik web yang web-nya biasa gw jadikan sebagai panduan dalam perjalanan gw mengunjungi candi2. Hehe.. Candi Ijo terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Petunjuk untuk sampai ke Candi Ijo bisa dilihat di sini. Jalanan di Bukit Ijo memang sudah berupa jalan aspal, tapi bagi teman2 yang akan ke sini dengan motor sangat disarankan untuk berhati2 karena jalanannya berupa tanjakan curam. Tapi tanjakan curam tadi sebanding koq dengan pemandangan di kanan kiri jalan yang hijau dan indah banget. *Seriously, saat itu yang gw ingat cuma gw ga mau balik lagi ke Jakarta.. :P* Setelah beberapa menit, akhirnya kami berempat sampai juga di Candi Ijo. Parkir motor, isi buku tamu, kasih uang masuk sukarela dan sekarang saatnya menikmati Candi Ijo. ^^ Berdasarkan informasi yang gw baca dari papan informasi, Candi Ijo merupakan candi Hindu yang terdiri dari 11 teras berundak. Candi induknya berada di teras paling tinggi yaitu teras ke 11 dan di teras ini, candi induknya ditemani oleh 3 buah candi perwara. Pada bagian dalam candi induk terdapat sebuah lingga dan yoni yang terbesar dari semua candi yang pernah gw kunjungi. Candi Ijo ditemukan oleh H.E. Doorepaal, administrator pabrik gula Sorogedug, pada tahun 1886 ketika beliau sedang mencari lahan penanaman tebu. Melihat dari relief pada kaki candi yang terdapat Kala Makara yang setipe dengan Candi Prambanan, maka diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke 9 hingga 10 Masehi. Pasa saat gw dan teman2 ke sana, candi perwara kiri kosong, candi perwara tengah berisi padmasana dan arca Nandi, sedangkan candi perwara kanan hanya berisi yoni tanpa lingga.

Beberapa saat setelah kami berempat datang, hujan langsung turun, jadilah kami berempat umpel2an berteduh di candi perwara tengah sambil ngemil biskuit kelapa yang dibawa oleh Maw dan Andreas. Ngobrol ini itu, sampai akhirnya kami membicarakan tujuan untuk membentuk komunitas pencinta candi. Dan di candi perwara tengah inilah deklarasi para pencinta candi dicetuskan!! *Hohoho.. ^^* Setelah hujannya berhenti, kami berempat pun turun untuk melanjutkan observasi ke teras2 selanjutnya. Masih merunut keterangan dari papan informasi, pada teras2 ini terdapat 17 gugusan bangunan candi. Gugusan bangunan candi ini dibagi menjadi 2, yaitu bangunan beratap dan bangunan yang tidak beratap. Ketujuhbelas gugusan bangunan candi ini dibedakan lagi menjadi 6 kelompok berdasarkan letaknya pada masing-masing teras. Sebagai tambahan informasi dari sebuah sumber di internet, candi2 pada teras ini bukanlah disusun dari kumpulan batu andesit tetapi dipahat langsung dari bukit gunung kapur.

Candi Ijo

Candi Ijo

Teras Candi Ijo

Teras Candi Ijo

maw - gw - andreas - aan

Berhubung hari sudah semakin gelap dan kami masih punya 1 tujuan lagi, maka selesailah kunjungan ke Candi Ijo ini. Masih diantar oleh Maw dan Andreas, kami pun segera menuju lokasi berikut yaitu Arca Gupala. Arca Gupala terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan ga jauh dari Candi Ijo. Arca Gupala ini terletak di dalam hutan, jadi untuk mencapai lokasi kita harus memarkirkan kendaraan di depan rumah warga sekitar, kemudian turun untuk masuk ke dalam hutan. Hmmm.. Agak berat sebenarnya gw menceritakan kunjungan gw ke Arca Gupala ini dikarenakan pengalaman mistis yang gw alami di lokasi ini. Arca Gupala ini merupakan kumpulan arca pada suatu lokasi, di sini terdapat kira2 5 buah arca dan yang dimaksud dengan Arca Gupala adalah arca Agastya setinggi 2 meter lengkap dengan trisulanya. Saran gw bagi teman2 yang akan mengunjungi lokasi ini adalah jangan pergi ke sini sendiri, pergilah di saat langit masih terang dan hati2 melangkah karena lokasinya licin dan lembab.Lokasi Arca Gupala

Arca Gupala

Selesai mengunjungi Arca Gupala, gw langsung mengajak Aan, Maw dan Andreas untuk mampir makan es krim Tip Top untuk menghilangkan pengalaman horror yang baru saja gw alami, dan ke sanalah tujuan kami selanjutnya. Es Krim Tip Top ini berada di Jl. Pangeran Mangkubumi No. 24. Toko es krim ini setipe dengan Es Krim Italy Ragusa yang ada di Jakarta, sama2 es krim yang diolah dengan cara tradisional dan tanpa pengawet. Menu gw malam itu adalah Tutty Frutty yang sukses bikin gw lupa pengalaman mistis tadi sore. Es krim enak, obrolan seru dan ketawa2 heboh kami berempat benar2 jadi penutup hari yang menyenangkan. Thank you, guys.. 😀

me and ice creams.. :P

me and ice creams.. 😛

Filed under fUn Tagged with