YK 2009 Trip Day 1 – 19/04/09

Whoaaa.. Akhirnya sampai juga gw di Yogya kota tercinta ini. Setelah menahan rindu kira2 setahun dan setelah pesawat yang delay selama 1.5 jam, alhamdulillah gw sampai di Bandara Adi Sucipto dengan selamat pada tanggal 18 April 2009 dan Tante Santi yang  ternyata dah nunggu 30 menit untuk menjemput gw.

Perjalanan gw di hari pertama Yogyakarta Trip ini dimulai jam 10 pagi dan tujuan pertamanya adalah Gua Jepang Kaliurang. Jalan menuju objek wisata ini adalah dengan memasuki kawasan wisata Kaliurang, kemudian ikuti papan petunjuk yang menuliskan Tlogo Warna, lalu ikuti terus papan petunjuk yg bertuliskan Gua Jepang yg berada di sisi kiri jalan. Rincian biaya masuknya adalah tiket parkir motor Rp 1500,- dan tiket masuk orang dewasa Rp 2000,-. Berhubung hari itu gw ditemani sama Aan, teman sekantor gw yang kebetulan lagi mudik ke Yogya, jadilah total biaya masuknya sebesar Rp 5500,-.

Sebenarnya gw udah pernah ke lokasi ini pada awal November tahun 2007, tapi karena wktu itu gw tiba di lokasi pukul 15.15 waktu bagian Kaliurang, objek wisata ini dah tutup. Dan hari ini gw kembali untuk menuntaskan rasa penasaran gw terhadap Gua Jepang ini. Laporan cuaca pagi itu cerah berawan. Dengan penuh antusias, gw mulai masuk dan langsung disambut oleh anak tangga yang agak licin karena paduan hujan dan lumut. Beberapa meter kemudian gw menemukan papan petunjuk yang menjelaskan: “Gua Jepang 800 Meter” dengan arah panah ke kiri. Hmmm.. Dalam hati gw mulai bertanya, *800 meter itu jauh ga sih?* Sebenarnya gw dah menduga bahwa 800 meter itu jauh, tapi gw menyemangati diri gw sendiri bahwa klo gw ga ke sini, gw akan terus penasaran. Jadilah gw melanjutkan perjalanan menuju Gua Jepang yang gw kira adalah 800 meter dengan jalanan yang datar, dan ternyata dugaan gw salah total. Jalanan menuju objek berupa tanjakan2 curam dengan jalan setapak berupa campuran tanah dan bebatuan yang lebarnya hanya muat untuk 2 orang dewasa. *OMG!! Ini mah outbound, cuy..* Makanya bagi pengunjung yang punya niat mau berwisata ke sini, gw cuma bisa bilang bahwa High Heels dan Stiletto sangat tidak disarankan. *Hehe.. Mendingan pake keds ato sandal gunung aja deh..*

Untuk mempersingkat cerita, akhirnya setelah melewati perjalanan sepanjang 800 meter dengan pemandangan yang luar biasa dan juga luar biasa melelahkan, sampailah gw di Gua Jepang itu. Dan ternyata gw baru tau klo gua-nya bukan cuma ada 1, melainkan ada 24 gua. *Hmmm.. Ni orang2 Jepang niat banget yak..* Dan gua yang pertama gw temui dinamakan Gua Jepang #1, tapi si gua pertama ini ternyata bukanlah gua yang pertama kali dibangun melainkan gua yang terakhir dibangun dari total 24 gua. Sedangkan Gua Jepang #24 yang berada di puncak bukit Kaliurang itu justru gua yang pertama kali dibangun. Tujuan gua2 ini dibangun adalah untuk keperluan pertahanan para tentara Jepang untuk sembunyi dari kejaran musuh. Jadi jangan berharap ada cerita2 mistis seperti di gua2 lainnya yang digunakan untuk menahan para tawanan perang hingga tawanan2nya meninggal di gua, dan juga gua2 di Kaliurang ini tidak sempat digunakan lama oleh para tentara Jepang karena saat itu Jepang kalah dari Sekutu. Dari 24 gua yang ada, hanya Gua Jepang #24 yang sudah dibeton dan siap digunakan, sedangkan gua2 lainnya masih berupa cerukan2 kasar yang berlantai tanah dan bebatuan. Walaupun ada gua yang berupa gua tunggal, tapi kebanyakan gua2 ini saling terhubung satu sama lain, misalnya Gua Jepang #1 menyambung dengan Gua Jepang #2 dan Gua Jepang #3. Lebar gua kira2 6-7 meter dengan panjang gua tunggal kurang lebih 20 meter. Informasi ini gw dapat dari bapak penjaga gua yang lupa gw tanyakan namanya. Bapak ini juga menyewakan senter seharga Rp 5000,- bagi para pengunjung gua yang mau memasuki gua. Bapak ini juga bisa menjadi pemandu untuk berkeliling di dalam gua. Gw pribadi sih menyarankan bagi para pengunjung Gua Jepang untuk dipandu oleh Bapak ini dan menyewa senternya karena di dalam gua tidak ada penerangan sama sekali dan lantai gua penuh dengan bongkahan batu2 besar yang bisa berbahaya klo tidak hati2. Oiya, gua ini juga dihuni oleh kumpulan kelelawar alias kalong, jadi jangan kaget klo mendengar suara2 mereka yang mirip suara tikus atau klo tiba2 makhluk2 ini terbang.

Gua Jepang #1

Gua Jepang #1

Gua Jepang #5

Gua Jepang #5

Berhubung cuaca yang tiba2 memburuk alias mendung dan berkabut, gw dan Aan memutuskan untuk menghentikan perjalanan hanya sampai di Gua Jepang #9. Selain karena kabut yang semakin tebal, medan menuju gua2 selanjutnya juga semakin edan. Jadilah gw, Aan dan Bapak pemandu kembali ke Gua Jepang #1 untuk menyelesaikan transaksi penyewaan senter dan ongkos sukarela untuk si Bapak. Kira2 10 menit turun dari Gua Jepang #1, gw dan Aan disambut oleh hujan dan kabut tebal dengan jarak pandang hanya kira2 3 meter yang membuat perjalanan turun harus ekstra hati2.

Pukul 13.00 waktu bagian kaliurang gw dan Aan berhasil turun dengan selamat dan basah kuyup. Ternyata di bawah ngga hujan sama sekali. *Sigh..* Acara selanjutnya adalah makan siang dan Aan yang emang bermukim di Yogya mengajak gw untuk makan Jadah Bacem Mbah Carik yang masih berlokasi di kawasan wisata Kaliurang. Ini adalah pengalaman pertama gw makan makanan yang bernama jadah. Khusus bagi yang masih asing dengan kata2 jadah, jadah itu adalah makanan sejenis ketan. Nah, si jadah ini dimakan dengan tempe atau tahu bacem plus cabe rawit. Terdengar agak aneh ga? Hehe.. Itu emang kesan pertama gw waktu makanan itu hadir di meja gw. Gigitan pertama rasanya benar2 aneh, gigitan kedua gw berdayakanlah cabe rawitnya dan ternyata.. enak banget!😀 Jadilah gw yang emang saat itu lagi laper, kalap dan cuma menyisakan 1 potong jadah dan 1 potong tahu bacem untuk Aan. *Maap ya, An.. :P*

Selesai makan, gw dan Aan melanjutkan perjalanan menuju Candi Barong yang terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Petunjuk lengkap untuk menuju Candi Barong bisa dilihat di sini. Satu kata yang bisa gw bilang untuk mengomentari jalanan menuju Candi Barong adalah parah!! Kebetulan kendaraan yang gw dan Aan gunakan adalah kendaraan roda dua alias motor, jadi berasa banget offroad-nya.😀 Saran gw klo mau ke sini mendingan naik mobil2 yang tipe2 cruiser lah, dan jangan sekali2 naik bajaj.😛 *Eh emang di Yogya ada bajaj??* Setelah melewati kerasnya medan jalan, akhirnya sampailah gw dan Aan di Candi Barong.

Pada saat gw dan Aan datang ke sini tidak ada penjaga ataupun petugas candi, yang ada cuma sekelompok domba yang sedang merumput dan sepasang anak muda yang lagi pacaran. *Huhhh.. Pacaran koq di tempat suci sehhh.. :(* Berhubung ga adanya sumber untuk bertanya, maka gw merunut dari sumber ini untuk detail Candi Barong ini. Candi Barong merupakan candi Hindu yang dibangun sekitar abad 9-10 Masehi. Candi ini dinamakan Candi Barong diduga karena pada candi induknya terdapat relief Barong. Candi ini didirikan pada 3 teras, di halaman teras pertama terdapat runtuhan2 batu yang gw duga adalah candi2 pendamping. Sedangkan di teras kedua merupakan pagar yang mengeliling candi induk di teras ketiga yang letaknya paling tinggi. Pada teras ketiga terdapat 2 buah candi induk yang menurut sumber dari internet adalah candi yang dipersembahkan kepada Dewa Wishnu dan Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan yang sekaligus merupakan isteri Dewa Wishnu. Tujuan pembangunan candi ini adalah sebagai pemujaan kepada Dewi Sri agar daerah di sekitar candi menjadi daerah yang subur.

Candi Induk

Candi Induk

imajinasi gw bilang klo teras ini dulunya adalah kolam yang mengelilingi candi induk.. :D

imajinasi gw bilang klo teras ini dulunya adalah kolam yang mengelilingi candi induk..😀

ini relief barong-nya, kyanya juga mestinya ada arca di relung kosongnya..

Setelah puas di Candi Barong, gw dan Aan pun melanjutkan perjalanan menuju Candi Banyunibo yang letaknya ga jauh dari sini. Untuk menuju Candi Banyunibo gampang koq, dari jalan raya Solo tinggal ikuti papan petunjuknya. Candi ini searah dengan Kraton Ratu Boko, bedanya klo Ratu Boko ke kiri, nah Candi Banyunibo ini lurus terus dan adanya di sisi kanan jalan di tengah2 sawah. Candi Banyunibo terletak di Dusun Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke 9 Masehi ini mempunyai nama yang berarti air yang menetes. Menurut papan informasi yang ada di depan kantor penjaga, candi ini berlatar belakang agama Budha. Arah candi ini menghadap ke barat dan terdiri dari 1 buah candi induk dan 6 buah candi perwara yang masing2 berjumlah 3 buah di selatan dan timur. Pada candi ini juga terdapat banyak relief yang menggambarkan Dewi Hariti yang dalam agama Budha dianggap sebagai manifestasi dari Dewi Kesuburan, Dewi Ibu dan Dewi Kekayaan.Candi Induk Banyunibo

relief Makara di tangga masuk

relief Makara di tangga masuk

im in between..

Berhubung hari sudah sore dan menjelang gelap, gw dan Aan memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di hari pertama ini. Overall, petualangan di hari perdana ini seru banget karena dah berpeluh keringat pas nanjak ke Gua Jepang Kaliurang, keujanan mpe baju dan celana lepek plus sepatu keds yang isinya air, dan sampai akhirnya kering lagi karena muter2 di Candi Barong dan Candi Banyunibo. Sekarang waktunya istirahat dan kembali ke peraduan.😀

Filed under fUn Tagged with

11 Responses to YK 2009 Trip Day 1 – 19/04/09

  1. wijna says:

    oooh…sempet basah-kuyup juga toh? Kok adegan naik motor habis dari Jadah Bacem Mbah Cariknya disensor??? he3. Eiya, itu Candi Barong emang ditutup kayak gitu yah?

  2. Gandi Wibowo says:

    Vinnaly muncul juga..

    • Vinna says:

      “vinnaly” hmmm.. turunan kata yg bagus dr kata “vinna”😀

      • Gandi Wibowo says:

        HAKI tuh… Gw yang nemuin, kalo mo pake musti bayar… Rp.100rb Per kata per tayang.

        Kasihan juga, tayang perdana tapi komen Gw gak masuk ke materi **Jadi inget waktu sidang TA, pengujinya pada nanyain titik koma doang :))

        Tapi Gw musti komen apa, Gw kan bukan kritikus. Blom pernah kesono pula😛
        Tapi cara mbahasnya lumayan…

        udah 5 halaman A4 tuh (Tapi pake foto), brarti kurang brapa halaman lagi buat jilid pertama?

        BTW link yang ke wijna salah tuh, http nya dobel.

  3. Gandi Wibowo says:

    Jumlah komennya di naekin lagi dong, jangan cuma 3, jadi bacanya (Dari Web) rada enak.
    Ubahnya di “settings”->”Discussion”; pilihan “Enable threaded (nested) comments” jadiin aja 10 “levels deep”
    Atau jangan ngasih reply komen, kalo dah sampe deep ke 3.

  4. nu abdi says:

    nice pic🙂

  5. Ferry Wijaya says:

    Ceritanya seru, ditambah foto2 yang mengilustrasikan kalimat-kalimatnya … hm … jadi pengen ikutan ….

    tuh .. gw bayar janji gw .. classy … hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: