Hari masih sore setelah kami tiba di kamar sewaan & foto-foto di The Reclining Buddha Mahavihara Mojopahit. Mau ngendon di kamar aja koq rasanya sayang, rugi & malu sama langit Trowulan yang saat itu cerah berawan. Setelah menempuh 6 jam perjalanan darat melewati beberapa kabupaten di Jawa Tengah & Jawa Timur, kami pun melanjutkan perjalanan. Ga capek? Ngga, kami terlalu excited untuk merasa capek.
Jadi apa objek terdekat dari vihara? Itulah tujuan pembuka kami sore itu.
Dari kejauhan, tinggi bangunannya sudah terlihat. Itu dia, Candi Brahu. Kami tiba di lokasi hanya beberapa menit menjelang Maghrib, jadi bisa dipastikan pagar di sekeliling candi sudah ditutup. Segerombolan anak sekolah yang berada di dalam kawasan candi menyarankan agar kami masuk lewat sela-sela pagar kawat di bagian belakang. *Maafkan kami para pihak berwenang, kami hanya tidak sabar untuk mengagumi Candi Brahu..
*
“Hi there, Mr. Brahu. You look so awesome.” sapaku ketika berhadapan dengannya. Oh yeah, have i said that the combination of beautiful temple, blue sky & the sunset is such an amazing thing? Well, that’s what I got that evening. Lucky me.
Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah yang umumnya terbuat dari batu andesit, candi di Jawa Timur sebagian besar berbahan dasar batu bata merah, begitupun candi Brahu ini. Candi ini berukuran tinggi 25.7 Meter & lebarnya 20.70 Meter. Berdasarkan hasil penelitian carbon dating, diduga Candi Brahu berasal dari masa tahun 1410 hingga 1646 Masehi, sehingga candi ini terbilang yang paling tua dibandingkan candi-candi lainnya di Trowulan. Berdasarkan prasasti Alasantan (939 Masehi) yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu, dituliskan tentang adanya bangunan suci yang bernama warahu alias Brahu.
Struktur bangunannya terdiri dari kaki, tubuh & atap. Berdasarkan penelitian pada kaki candi, diketahui terdapat sususan struktur batu bata yang terpisah, hal ini diduga adalah sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan hasil rekonstruksi batu bata baru yang disusun pada masa pemerintahan Belanda. Pada bagian tubuhnya, terdapat bilik berukuran 4×4 Meter dengan kondisi lantai yang sudah rusak. Well, gw rasa inilah penyebab mengapa ada papan larangan bagi pengunjung untuk naik.
So, what are you waiting for? Go meet Mr. Brahu & explore his greatness. Best time here is definitely at the sunset time.
This following statement of mine might sounds kinda geeky;
Bertemu dengan candi lagi setelah beberapa bulan, entah mengapa membuat gw merasa lebih ringan & bahagia. Rasanya seperti berjumpa dengan kekasih setelah lama tidak bersama.



mawi wijna
18/08/2010
saya lupa ngirim foto ke anak2 yang ada disitu
Vinna
18/08/2010
kirimlah.. itung2 kejutan lebaran..
Gandi Wibowo
28/08/2010
Dan Gw benci… karena ternyata itu terakhir kali kita liat brahu **masih berpikir seharusnya kita ke brahu lagi sehabis dari gentong*
Vinna
30/08/2010
iya.. pdh gw blg ma mr. brahu bhw gw akan kembali besok, tp nyatanya malah ga smpet pamit..