Pagi itu, kita sarapan bersama ditemani semilir angin perbukitan & kepakan kupu-kupu. Aku mencoba menikmati menu pagiku sambil mendengarkanmu bercerita. Menatapmu sesekali agar kau tak menyadari kealpaan setengah diriku di sana.
Aku diam menatapmu. Menatapmu yang sedang bekerja di depan notebook-mu sambil lagi-lagi bercerita tentang pekerjaanmu. Aku tak bisa mendengar kata-katamu, satu kata pun tak terdengar. Aku tak berada di sana, aku berada di dunia dimana ku tak inginkan kau ada.
Aku lalu pergi ketika matahari mulai tinggi. Menikmati suasana kota, kataku. Kau pun mengiyakan kepergianku sambil bertanya pukul berapa aku akan kembali. Aku hanya bisa mengangkat bahuku lalu berkata, “Aku berangkat.” Ku tutup pintu cepat-cepat. Tapi aku bukan ingin menikmati suasana kota, aku ingin berdua dengan diriku sendiri.
Aku terbangun pada pukul 3 dini hari ketika hujan membasahi bumi dengan derasnya. Aku mematikan TV yang masih menyala karena kebiasaanmu menonton TV hingga terlelap. Aku menatapmu tidur, terpejam dengan nyenyak di sampingku. Lama aku menatapmu.
Lelakiku, tahukah kau mengapa ku tak pernah lagi bisa membalas tatapan matamu? Tahukah kau mengapa seringkali ku kehabisan kata-kata menemanimu bercerita? Tahukah kau mengapa akhir2 ini aku sesekali menghilang untuk menyepi? Dan tahukah kau mengapa aku ingin berlama-lama menatapmu ketika kau terlelap?
Karena ku tak ingin kau tahu bahwa mataku berduka setiap kali melihatmu. Karena ku tak ingin kau mendengar getaran suaraku menahan sendu yang membiru. Karena ku tak ingin kau tahu bahwa seluruh tubuhku merejam sesak bertahan untuk tidak pergi. Karena malam ini mungkin adalah malam terakhirku menatap wajah laki-laki yang kukagumi dalam lelap tidurnya.
Aku menulis sepucuk surat ketika mentari belum terjaga, sebuah surat untukmu.
Lelakiku, andai masa ku genggam dalam asa, aku sungguh memilih untuk tak merasa. Sesapan sesal tiada guna ketika mimpi-mimpi menyapa. Bertanya terus menerus tentang mengapa, mengapa & mengapa. Dosa apa yang kita buat di masa lalu hingga kita harus menyatu tanpa bisa bersatu?
Lelakiku, aku tak bisa menahan luka lagi karena tak berada pada posisi yang tepat. Aku merana menahan logika yang hampir mati ditikam rasa. Tidakkah kau dengar rintihan pilu jiwaku yang tertatih-tatih ketika gagal mencoba melewati ambang amarah entah kepadamu atau pada diriku sendiri? Tidakkah kau lihat bosan pada nuraniku setiap kali ia gagal mengingatkanku untuk berhenti & pergi?
Lelakiku, sebelum tidur tadi aku berdoa kepada Tuhan kita, begini kira-kira bunyinya, “Tuhan, aku memohon kepadaMu, buatlah dia menjauhi & meninggalkanku, karena aku tak pernah sanggup melakukannya. Amin.” Aku berharap Ia mengabulkan permohonanku, bukan hanya untuk kepentinganku tetapi juga untuk kebaikan & kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu yang selama hampir 3 tahun ini menjadi prioritas utamaku.
Lelakiku, setiap inci tubuhku menginginkanmu. Tapi kau sungguh harus pergi meninggalkanku dalam duka & menghempaskanku di dunia nyata yang pastilah lara tanpamu. Karena aku tak punya asa & daya untuk pergi darimu. Maka pergilah, kembalilah ke tempat dimana seharusnya kau berada sekarang.
Dan jika kau tak pernah mendengar ini sebelumnya dariku, maka kini ku katakan bahwa aku sungguh sangat mengagumi & mencintaimu penuh di dinding-dinding pikiran & hatiku. Sungguh teramat sangat.
Selamat tinggal lelaki mengagumkan.
Kita berpisah di bandara internasional itu. Aku sisipkan suratku pada tas abu-abumu seiring langkahmu memasuki pesawatmu. Aku pun beranjak pergi memasuki pesawatku. Dua maskapai penerbangan berbeda yang akan membawa kita pulang ke kota yang sama. Hanya aku, kamu & Tuhan yang mengerti mengapa kita tak pernah bisa berada pada satu maskapai yang sama. Biar hanya kita & Tuhan yang tahu.
Mataku sembab ketika tiba di kota kita. Isak tangisku tak tertahan selama 45 menit perjalanan di udara. Aku melihat gambaran aku tanpamu & kamu tanpaku di langit.



















