11
Nov
09

Cerita Sabtu Seru 31/10/09: Sepeda & Museum Perangko..

Sepeda. Kata benda itu sudah menggangu hidup gw selama beberapa bulan terakhir ini, ya setidaknya ketika fenomena bersepeda kembali nge-trend lah. Setelah batal bersepeda di minggu sebelumnya, akhirnya hasrat & kerinduan gw untuk bersepeda tersalurkan juga di Sabtu seru ini. Nah, berhubung gw sudah ga punya sepeda sejak maling menggondolnya beberapa tahun yang lalu, jadilah gw mencari tempat wisata yang punya fasilitas rental sepeda & pilihan gw jatuh kepada Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang secara jarak lebih dekat dari rumah gw.

Tiket masuk TMII bagi orang dewasa adalah seharga Rp9.000,- & berhubung waktu itu gw ke sana naik mobil jadilah mobil gw pun dikenakan retribusi sebesar Rp10.000,-. Rental sepedanya berlokasi di sudut kiri Desa Seni & menghadap langsung ke tempat parkir, beroperasi di hari Selasa-Minggu pukul 9.00-17.00 WIB. Ada banyak pilihan sepeda dengan berbagai pilihan tarif sewa yang berlaku untuk hitungan waktu selama 1 jam. Ada sepeda tandem dewasa bertarif Rp20.000,-; sepeda tandem kecil bertarif Rp15.000,-; sepeda MTB 24″ seharga Rp10.000,-; sepeda MTB 26″ seharga Rp20.000,- & sepeda BMX dengan tarif Rp7.500,- hingga Rp10.000,-. Syarat peminjamannya mudah koq, cuma uang seharga sepeda rental pilihan & KTP yang masih berlaku tentunya. Pilihan gw pun jatuh ke sepeda MTB ukuran 24.

Whoaaa.. Riding time is begin!! Sepedahan begini bikin gw flash back ke tahun2 keintiman gw ma sepeda gw yang dimalingin itu. *Hiks.. Sepedah, aku merindukanmu..* Pagi itu gw ga sepedahan sendiri, gw sepedahan bareng Mama tercinta yang ternyata masih bisa bersepeda setelah puluhan tahun ga pernah lagi bersepeda. Setelah keliling2, sok2an ngebut, gaya2an zig-zag, ngebalapin orang2 yang lagi jalan kaki *penting bgt* & foto2 *ini sebenarnya inti dari sepedahan pagi itu.. :P *, gw & Mama pun akhirnya mampir ke Museum Perangko.

sepedahan

Museum Perangko berada di kompleks Taman Mini Indonesia Indah tidak jauh dari Anjungan Daerah Papua. Museum ini diresmikan oleh Bpk. Soeharto ketika masih menjadi Presiden Indonesia pada 29 September 1983. *Museum ini seumuran ma gw.. :P * Pada pintu masuknya terdapat patung Hanoman, menurut keterangan dari situs resmi TMII, patung Hanoman itu dikenal sebagai pembawa berita (dhuta dharma) dalam dunia pewayangan yang diartikan serupa dengan tugas PT Pos Indonesia. Meskipun bukan tergolong museum baru, tapi bangunan Museum Perangko ini terbilang masih cukup baik. Belum lagi diorama & tata letak isi museum yang tertata apik & bersih dengan sepoi2 sejuknya AC ruangan, bikin gw betah banget berlama2 di sini. Oiya, sebagai informasi, tiket masuk seharga Rp2.000,- yang terpampang di depan patung Hanoman tidak berlaku koq, harga tiket masuk museum ini = GRATIS!

Terdapat 6 bagian di museum ini, mulai dari Sejarah Pos & Perangko di Dunia; Proses Pembuatan Perangko & Perkembangannya; Penerbitan Perangko Pra Kemerdekaan dan Masa Kemerdekaan; Penerbitan Perangko Paska Kemerdekaan; Macam2 Tema Perangko & Kegiatan Filateli. Pada bagian2 ini kita bisa melihat perangko pertama di dunia, The Penny Black, yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1840. Kemudian terdapat pula perangko pertama di Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1864, keunikannya adalah perangko ini dicetak tanpa perporasi atau gigi perangko. Ada pula bis surat alias kotak pos yang dipergunakan pada tahun 1919.

Museum Perangko1

Museum Perangko TMII

Museum Perangko2

Sang Dhuta Dharma

Koleksi Museum Perangko 1

Koleksi Museum Perangko 1

Koleksi Museum Perangko 2

Koleksi Museum Perangko 2

Koleksi Museum Perangko 3

Koleksi Museum Perangko 3

Setelah puas berkeliling, gw lalu bergabung dengan Mama yang lagi ngobrol dengan penjaga museum. Iseng2 gw bertanya perihal frekuensi kunjungan di museum ini & jawaban si bapak penjaga cukup bikin gw sedih. Katanya, “Sepi, Mba.. Orang2 lebih suka ke acara musik di bawah, naik kereta gantung, istana anak2 & SnowBay. Lihat saja di buku tamunya.” Gw pun beranjak ke buku tamu; gw adalah pengujung pertama hari ini, sedangkan kemarin hanya ada 2 orang pengunjung & begitu pula kemarin lusa. Sisi emosional gw langsung memuncak. Kenapa sih rata2 museum selalu sepi pengunjung kalau dibandingkan dengan mall atau coffee club yang notabene membuat kita menjadi konsumtif? Apa iya museum semembosankan itu? Padahal para kreator maupun donatur museum sudah mengeluarkan banyak effort untuk berbagi ilmu pengetahuan kepada kita semua, khususnya museum ini yang menurut gw sangat layak untuk dikunjungi. Siapa & apa yang salah ya? *Think*

Sepedahan: DONE. Kunjungan museum: DONE. Foto2: DONE. Jadi cuma segini Sabtu serunya? Wewww.. Ini baru awal keseruan di hari Sabtu, 31 Oktober 2009 koq, masih ada cerita seru lainnya setelah ini. Nantikan postingan berikut yaaa.. ^^

07
Nov
09

si Vinna & sosok Sekretaris..

Berdasarkan ilmu semasa kuliah dulu, kata sekretari atau secretary berasal dari kata secret yang berarti rahasia, artinya seorang sekretaris adalah orang yang pandai menyimpan rahasia. Pandai menyimpan rahasia adalah salah satu syarat wajib untuk menjadi sekretaris, apapun jenis kelaminnya. Sekretaris identik dengan pekerjaan yang bersifat melayani, jadi seorang sekretaris haruslah memiliki sifat yang ramah agar koordinasi pekerjaan menjadi harmonis. Selain itu, sekretaris adalah jembatan dari segala pihak, internal-internal maupun internal-eksternal, jadi seorang sekretaris harus berpenampilan baik agar dapat memberikan citra yang bagus bagi setiap pihak. Dan masih banyak lagi keharusan2 yang wajib dimiliki oleh seorang sekretaris. Nah, pertanyaannyaaa.. Apakah gw sudah memenuhi kualifikasi sebagai seorang sekretaris, paling tidak 3 hal di atas? *Phewww..*

Mari qta bahas satu per satu 3 kriteria di atas:

1. Pandai Menyimpan Rahasia –> Hmmm… Koq kyanya membahas yang satu ini ga pantas klo dinilai oleh diri sendiri ya? Mana ada orang pandai menyimpan rahasia ngaku2 klo pandai menyimpan rahasia? Jadi biar orang2 saja yang menilai lah untuk kriteria yang satu ini.

2. Ramah –> Huhuhu.. Sampai saat ini gw merasa belum cukup ramah dalam segala kondisi. Tingkat keramahan gw masih dipengaruhi oleh naik turunnya mood gw di kantor. Bukan sekali dua kali rekan2 kantor gw menggerutu betapa galaknya gw ketika mereka kehilangan dokumen *kenapa ga diarsip c??*, salah format nodin (nodin = nota dinas) padahal gw sudah seringkali mengirimkan format yang baku *formatnya salah nih, harus di-print ulang!* atau menanyakan sesuatu berulang-ulang *kenapa ga dicatat c??*. Tapi kegalakan itu cuma berlaku ketika mood gw sedang jelek, kalau mood gw lagi bagus, jawabannya pasti begini: *dokumen nomer brp? nanti aku kirimin yaa..* *formatnya salah nih, kirim dokumen word-nya ke aku ya biar aku benerin..* *koq ga dicatet c? aku kirimin lagi yaa..* Beda banget ya? Wekekekek..

3. Berpenampilan Baik –> Nahhh.. Inilah salah satu kelemahan gw, gw susah banget untuk rapih. Sejak kecil sepertinya gw susah banget untuk sedikit peduli sama penampilan diri sendiri. Masa kuliah selama 3 tahun bahkan sepertinya ga bisa merubah gw untuk bisa lebih perhatian terhadap model2 pakaian yang pantas untuk seorang sekretaris. Belum lagi soal tatanan rambut gw yang hampir 98% selalu diikat bahkan diuwel2. Kadang2 gw suka merasa kasihan sama boss gw, sekretarisnya koq penampilannya biasa banget sementara teman2 sekretaris gw yang lain terlihat modis, anggun & rapih. *Maaf ya, Boss.. :( *  

 

Vinna

lihat sendiri betapa berantakannya gw sebagai sekretaris.. :(

si Vinna

kenalkan, saya Vinna, sekretaris.. :P

Jadiii, kesimpulannya adalah bahwa gw merasa belum jadi sekretaris yang baik selama ini walaupun sudah menjalani profesi ini selama kurang lebih 5 tahun. Skirt and high heels? No, I do better with my pants and keds.. ;)

 

26
Oct
09

Pictures Talk: Pesta Blogger 2009

Sewaktu lagi blogwalking, beberapa blog yg gw kunjungi memasang icon Pesta Blogger 2009 yang tinggal menghitung hari. Kayanya acaranya seru & pengen hadir, tapi *Emang gw blogger ya?* ; *Punya blog sih, tapi masih sepi pengunjung..* Akhirnya gw menahan keinginan gw (baca: minder) untuk datang ke acara yang berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2009 di Gd. SMESCO. Sampai tiba2 hari Jumat, 23 Oktober 2009 sore, pihak Bubu.com selaku penyelenggara menawarkan free invitation untuk menghadiri Pesta Blogger 2009 kepada rekan2 di kantor gw. Berhubung teman2 sekantor merasa bukan blogger, alhasil free invitation itu tidak diminati oleh siapapun kecuali gw. Nanya sana sini ke teman2 yang punya blog, ternyata teman gw, Gandi Wibowo, juga niat datang ke hajatan para blogger itu. Akhirnya gw pun memutuskan hadir, selain pengen nambah teman2 blogger, gw juga pengen jadi saksi kemenangan Wijna yang blognya masuk nominasi XL Blog Award kategori blog pariwisata, walaupun akhirnya ga menang juga.

Singkat cerita, di acara itu gw kenalan dengan Cerita Eka, Frozen’s Thought, Soul Harmony, Zulhaq, Macan Gadungan, Gerrilyawan & Juli. Ngobrol & tukar ceritanya seru, tapi foto2nya lebih seru lagi. Yay!! Enjoy the pictures talk..

PB 2009 1

PB 2009 2

PB 2009 3

PB 2009 4

PB 2009 5

PB 2009 6

Buat para pembaca, please info dunk dimana gw bisa dapetin lagu tema Pesta Blogger 2009 yg enak banget itu.. Makasih.. ^^ 

07
Oct
09

Oh No.. Not That Question Again..

1/10/09 on my way home..

Jadi mau travelling lagi?

Iya..

Kapan?

Insya Allah akhir Oktober atau awal November..

Dan jadinya ke Malang?

Iya..

Koq ga jadi ke Semarang?

Soalnya klo di Semarang jarak ke candinya jauh..

Oh.. Sama siapa?

Sendiri..

Sendiri lagi yaaa.. *Nada suara naik*

Abis gada yang mau nemenin..

Trus yang ke Bangkok jadi?

Jadi.. Insya Allah tahun depan nunggu uangnya kumpul..

Jadi rencananya mau kemana aja?

Jadi daftar tujuannya itu Malang-Mojokerto, Semarang-Temanggung, Penanggungan, Jatim Trip, Jambi, Ayutthaya – Thailand, Siam Reap – Cambodia, Xieng Khouang – Laos, Harappa – Pakistan, Turki Trip, Egypt Trip & Ancient Maya Trip. Amin..

Hmmm.. Jadi nikahnya kapan?

?%(@#”$&^?*/!!!

05
Oct
09

Cerita-Cerita Hujan..

Hari Minggu, 4 Oktober 2009 pukul 12.00 siang kemarin, gw terbangun dari tidur gw. Bukan, bukannya baru bangun tidur biasa. Cuma saja kondisi badan gw yang lagi nge-drop setelah seminggu penuh lembur bikin gw butuh lebih banyak istirahat di akhir minggu ini. Gw terbangun karena suara turunnya hujan. Fyi, hujan adalah hal yang langka di Bekasi belakangan ini. Menyadari kelangkaan itu, cepat2 gw bangun, mematikan AC kamar & membuka jendela kamar gw selebar2nya. Angin sejuk & aroma paduan air hujan dengan tanah pun segera mengelilingi gw. Segarrr!!

Bicara soal hujan, sebenarnya gw ga terlalu menyukai datangnya mereka. Kenapa? Selain karena hujan kerap kali menjadi sumber (bertambahnya) kemacetan di Jakarta & sekitarnya, alasan sepele lainnya adalah karena ketika musim hujan datang, gw jadi harus selalu membawa jaket & payung di tas gw. *Bawa badan sendiri aja udah berat, ini harus ditambah lagi dengan membawa 2 benda tambahan.. :P * Tapi bagaimana pun juga, hujan selalu punya cerita2 seru yang ga bisa gw lupa..

Cerita Hujan #1.

Masa kecil di Bogor. Saat2 indah sewaktu tinggal di Ciawi, Bogor ketika gw & Desy, sepupu gw, harus berlari2 di antara tetesan gerimis hujan untuk membantu Bik Kokom mengangkat jemuran. *Miss those Bogor times.. :| *

Cerita Hujan #2.

Mei 1996. Romantisme masa kecil alias cinta monyet semasa kelas 1 SMP di tanjakan Boscha, Lembang – Bandung. Menikmati siang berganti malam ditemani angin dingin khas Lembang & rintik2 hujan yang menetes di kepala bersama seorang teman lelaki gw. *Ternyata gw sudah naif sejak kecil.. Hehehe.. :D *

Cerita Hujan #3.

Februari, 1997. Menikmati serunya terperangkap hujan & air pasang di karang Tanah Lot, Bali. Gw ga akan bisa lupa kepanikan ini. Cuaca sewaktu kami datang memang sudah mendung. Berhasil masuk ke dalam karang Tanah Lot dengan sukses, lalu tiba2 hujan pun turun & kami memutuskan tetap berada di sana menunggu hujan reda. Sampai kemudian sepupu gw sadar kalau tinggi air semakin naik & kami semua pun panik. Setelah beberapa menit menunggu namun hujan tak kunjung reda, sang pemandu pun menuntun kami semua untuk keluar dari karang dengan ekstra hati2, walaupun salah satu sepupu gw harus terpeleset. *Miss our happy times, my dear family..*

Cerita Hujan #4.

2 Februari 2007. Masih ingat dengan siklus banjir besar yang melanda Jakarta setiap 5 tahun sekali? Setelah lolos dari efek banjir besar di tahun 2002, akhirnya gw merasakan juga di tahun 2007. Inilah pengalaman terjebak kemacetan di jalan tol dalam kota dengan jarak tempuh Plaza Kuningan – Jatibening selama 6 jam. Turun dari mobil untuk melihat kemungkinan meneruskan jalan di sekitaran cawang, lalu sibuk minta jalan supaya mobil yang gw tumpangi bisa keluar dari antrian, sampai deg2an & kebingungan cari SPBU karena gada 1 orang pun yang ngeh kalau bensin sudah menipis. Dan setelah segala macet terlewati & sampai di tujuan, seisi mobil cuma bisa tertawa lega. *Thanks for riding me home, Boss.. I owe u..*

Cerita Hujan #5.

7 November 2007. Ini cerita tentang nikmatnya sepayung berdua dengan tante gw mengelilingi kompleks Candi Prambanan ketika hujan sedang turun deras2nya. Hujan + Candi = Dramatis. *Coba hujan2an di Ratu Boko yuk, Tante.. :D *

Cerita Hujan #6.

8 November 2007. Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, kali ini gw & tante gw membawa 2 buah payung. Berbekal jaket & payung, gw & tante gw mengelilingi Petilasan Kraton Kotagede di tengah hujan yang mengguyur Yogya dengan lebatnya. Gw masih ingat segarnya air hujan yang menyentuh kulit gw saat itu, ditambah lagi dengan aura Kraton Kotagede yang masih terasa kemegahannya, hari itu terasa sangat menyenangkan. *This is definitely my favorite moment of rainy day.. ^^*

Cerita Hujan #7.

18 Desember 2007. Hujan = quality time? Agree. Gw ga akan lupa pembicaraan 2 manusia yang sedang terjebak hujan maha lebat di tengah2 jalan tol Cipularang sepulang dari Bandung menuju Jakarta bersama seorang lelaki yang adalah sahabat, abang & (bukan) kekasih gw ini. *Bandung + U + Rain = Intimacy..*

Cerita Hujan #8.

24 Juli 2008. Hujan ternyata paling juara kalau dinikmati dengan makanan enak. Malam pertama gw tiba di Singapore, gw disambut dengan ajakan makan malam yang menyenangkan di Restaurant Long Beach yang terletak di Dimpsey Rd. Dan saat gw beserta rekan2 lainnya sedang makan malam di luar ruangan alias outdoor, tiba2 saja hujan membasahi Singapore dengan deras. Dinginnya malam berpadu dengan lezatnya menu Chilli Crab & Roti Mantau ditambah juga dengan obrolan yang seru benar2 bikin hujan malam itu terasa indah. *Thank you all for inviting me to join the Chilli Crab party.. It was a wonderful dinner..*

Cerita Hujan #9.

25 Juli 2008. Inilah cerita hujan2an paling seru karena terjadi di negeri seberang. Hujan2an dengan rute Bishan – City Hall – Redhill – Alexandra hanya untuk berkunjung ke IKEA Store Alexandra, Singapore. Gw ga akan bisa lupa moment ini; kebingungan membaca kode bus yang melewati Alexandra Rd, kehabisan uang receh untuk naik MRT di Redhill sampai akhirnya gw memutuskan untuk membeli tiket langganan MRT. Lalu baliknya hujan2an lagi sambil menenteng belanjaan IKEA & sebuah tripod dengan rute Alexandra – Redhill – City Hall – Bishan – Somerset untuk menonton live music jazz di Singapore Art Museum. Masih belum cukup? Belum. Lepas dari Singapore Art Museum, gw masih harus gerimis2an untuk menyaksikan Night Festival di National Museum of Singapore lalu merasakan naik bus double decker hanya untuk makan durian di Geylang sambil mengeringkan pakaian. Dan kembali pulang ke Bishan di pukul 2.30 pagi. Hari itu = sempurna. *Yeah!! ^^*

Cerita Hujan #10.

19 April 2009. Inilah moment hujan2an paling kritis. Hujan deras turun ketika gw & sahabat lelaki gw berada di bukit Kaliurang setinggi kira2 800 meter dari permukaan laut dengan kabut tebal & jarak pandang yang hanya sekitar 3 meter. Rasa takut & seru berada di garis tipis hati gw saat itu. Syukur alhamdulillah kami berdua bisa tiba di bawah dengan selamat. *Phew..*

Cerita Hujan #11.

21 April 2009. Berlindung dari derasnya hujan yang mengguyur wilayah Sambirejo di dalam candi perwara tengah Kompleks Candi Ijo bersama 3 orang laki2 ajaib. Ketawa2 di dalam candi sambil bicara soal eksistensi komunitas candi & ngemil biskuit kelapa. *Miss u all, guys..*

Rinai hujan basahi aku/ Temani sepi yang mengendap/ Kala aku mengingatmu / Dan semua saat manis itu/ Aku selalu bahagia/ Saat hujan turun/ Karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri/ Aku bisa tersenyum/ Sepanjang hari/ Karena hujan pernah menahanmu di sini untukku.. – Hujan by Utopia.

29
Sep
09

Petualangan Kamis, 10/09/09 – Museum Wayang

Kebingungan masih melanda gw setelah kunjungan Gereja Katedral selesai, ada 3 pilihan lokasi yang ingin gw kunjungi di Kota Tua. Gw menuju Kota Tua dengan menggunakan Busway dari halte Istiqlal 2 dengan tujuan halte Harmoni untuk transit, lalu lanjut dengan Busway koridor 1 menuju Kota sebagai halte pemberhentian terakhir. Di dalam Busway, gw memantapkan pilihan kunjungan antara Museum Bank Indonesia, Museum Wayang & Museum Keramik dan Seni Rupa, & pilihan gw jatuh kepada Museum Wayang. Kenapa? Ngga ada alasannya, pengen aja. :D

Gw tiba di Museum Wayang pukul 14.30. Museum di Jakarta pada hari kerja umumnya tutup pukul 16.00 WIB, tetapi berhubung ini adalah bulan puasa maka waktu tutup mereka maju menjadi pukul 15.00 WIB. Itu artinya gw cuma punya waktu 30 menit untuk berkeliling di museum ini. Gw masuk & membayar tiket seharga Rp2.000,- ditambah dengan wanti2 dilarang memotret koleksi wayang dari penjaga loketnya ketika beliau melihat sebuah kamera tergantung di leher gw.

Museum Wayang

Museum Wayang

Museum Wayang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Barat. Gedung ini dibangun pada tahun 1604 & berfungsi sebagai gereja dengan nama De Oude Hollandsche Kerk. Pada tanggal 13 Agustus 1975 gedung ini resmi digunakan oleh Museum Wayang & pada tanggal 16 September 2003 gedung ini memperluas lahannya setelah mendapatkan hibah dari Bpk. H. Probosutejo. Museum Wayang memiliki sekitar 5400 koleksi wayang baik dari wilayah nusantara maupun mancanegara yang terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka & gamelan. Oiya, selain memiliki koleksi wayang, museum ini pun masih memiliki beberapa peninggalan nisan warga2 Belanda yang dahulu pernah dimakamkan di sini mengingat gereja di zaman Belanda dulu selalu menjadikan halaman belakangnya sebagai pemakaman. Salah satu nisan tersebut adalah nisan dari Jan Pieter Zoon Coen alias J.P. Coen, salah satu gubernur VOC yang pernah memimpin Batavia.

Kondisi museum ketika gw datang sepi, sunyi, senyap & gelap. *Eh, ini museum apa kuburan ya? Apa lagi pada ngirit ya sampe harus gelap2an begini.. :D * Sampai akhirnya gw bertemu dengan Pak Jali yang bersedia menemani gw berkeliling & menjelaskan kalau ternyata museum mengalami pemadaman listrik sejak semalam. *Hoo.. Pantesan..* Pak Jali sebenarnya bukanlah seorang pemandu melainkan hanyalah seorang pegawai museum, tetapi walaupun bukan seorang pemandu, informasi yang diberikannya cukup banyak & detail. Pak Jali menjelaskan bahwa setiap bentuk, guratan, mimik & warna dari sebuah wayang itu memiliki nilai filosofi atau arti tersendiri. Begitu juga proses pembuatan sebuah wayang yang membutuhkan waktu yang tidak instan. Selama ini yang gw tau, wayang hanya berasal dari seputaran wilayah Jawa saja, tapi ternyata gw salah, hampir seluruh wilayah nusantara memiliki boneka wayang-nya masing2 mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara. Selain untuk hiburan, wayang pun kerap kali digunakan sebagai media untuk dakwah hingga himbauan program Keluarga Berencana (KB). Lalu, sebagai bentuk nyata partisipasi museum terhadap kelestarian wayang, pertunjukan wayang pun digelar setiap hari Minggu di minggu ke 2 & 4 pukul 10.00 – 14.00 WIB.

Nisan JP Coen

Nisan JP Coen

inilah wayang golek raksasa yang menyambut para pengunjung museum..

inilah wayang golek raksasa yang menyambut para pengunjung museum..

Kunjungan gw selesai pada pukul 15.30 & selesailah petualangan gw seharian ini. Sebelum meninggalkan Kota Tua, gw sempatkan untuk duduk2 di Taman Fatahillah, memperhatikan keramain di sekeliling gw lalu berkata dalam hati “Sepertinya misi gw menghilangan suntuk kemarin malam berhasil.. Mission accomplished.. Hore!!” ^^ Sekarang waktunya melangkahkan kaki lagi untuk sebuah janji.

stadhuisplein

stadhuisplein

26
Sep
09

Petualangan Kamis, 10/09/09 – Gereja Katedral

Selesai dari Museum Nasional, gw bingung mau kemana. Akhirnya gw menepi di halte bus persis di depan Museum Nasional sambil berpikir tujuan selanjutnya. Waktu menunjukkan pukul 11.30 dengan laporan cuaca panas terik berangin & gw sama sekali ga ingin pergi ke Kota Tua di siang hari bolong seperti ini. Tiba2 aja, gw terpikir untuk mencoba peruntungan gw berkunjung ke Gereja Katedral. Bingung dengan jalur Busway menuju kawasan Lapangan Banteng, akhirnya gw memutuskan untuk menggunakan taksi tarif lama untuk sampai ke tujuan. Lima belas menit kemudian gw tiba & membayar tarif taksi di angka Rp12.000,-. Masuk melalui gerbang utama, gw menyapa Pak Satpam untuk mendapatkan informasi apakah boleh untuk memotret di Gereja Katedral. Ternyata memotret di bagian luar gereja diperbolehkan, tapi kalau mau mengambil gambar di dalam gereja harus meminta izin dulu ke bagian paroki.

Ngga mau buang2 waktu, gw pun segera mengambil gambar dari luar gereja sambil mengagumi arsitektur gaya neo gothik yang klasik ini. Gw mulai mengagumi arsitektur gereja ini sejak kira2 umur gw 12 tahun. Selama ini gw cuma bisa mengaguminya dari dalam mobil jika orangtua gw mengajak gw untuk menikmati Es Krim Italy Ragusa yang terletak di Jl. Veteran. Kebetulan, gw & Alm. Papa adalah pencinta sejarah & bangunan2 bersejarah, & siang itu gw berharap Papa ada bersama gw untuk sama2 menikmati keindahan Gereja Katedral. :| *I miss u, Dad..*

IMG_0087

Gereja Katedral

Puas motret sana & sini, lagi2 gw mencoba peruntungan gw untuk meminta izin masuk ke dalam gereja kepada bagian paroki. Kantor paroki berada di samping koperasi yang terletak persis di depan gua Maria. Gw mengintip waktu di E71 gw, pukul 12.00. Di kantor paroki, gw disambut oleh Mba Yanti, Mba Siswanti, Pak Tino & Mas Agung. Gw diizinkan masuk ke dalam gereja dengan syarat harus ada yang mendampingi agar tempat2 suci seperti altar dll. tidak sembarangan gw naiki. Sambil menunggu Mas Agung mencari orang yang akan mendampingi gw, gw pun bertanya2 perihal sejarah gereja ini & Mba Yanti malah menawarkan gw sebuah buku informasi lengkap Gereja Katedral seharga Rp10.000,-. Bukunya berupa buku saku dengan halaman berwarna yang memuat sejarah beserta keterangan arsitektur gereja. Melihat bukunya cukup informatif, gw pun membelinya. Tak lama kemudian, Mas Agung kembali & menawarkan diri untuk menemani gw berkeliling di dalam gereja karena petugas2 lainnya sedang makan siang.

Garis besar pembangunan gereja ini diawali oleh adanya kebutuhan sebuah rumah ibadah yang dapat digunakan oleh umat Kristiani pada awal tahun 1800. Setelah beberapa bangunan gereja sebelumnya mengalami kerusakan seperti gempa bumi, kebakaran maupun keruntuhan, pada 16 Januari 1899 batu pertama diletakkan sebagai tanda dimulainya lagi pembangunan gereja oleh Ir. Marius Hulswit. Konstruksi bangunan terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan diberi pola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata inilah yang menunjang kuda2 kayu jati yang terbentang sesuai dengan lebar bangunan. Gereja Katedral dirancang dalam gaya neo gothik dengan bentuk dasar salib sepanjang 60 M & lebar 20 M. Di lantai 2, dengan ketinggian 7 M terdapat galeri sebagai tempat paduan suara. Atap gereja dibuat dari kayu, bukan dari batu seperti bangunan pada umumnya dengan alasan untuk mengantisipasi apabila terjadi gempa bumi. Gereja ini memiliki 3 buah menara, 2 buah menara di depan adalah Menara Benteng Daud (kiri) & Menara Gading (kanan), sedangkan menara di bagian belakang adalah Menara Angelus Dei. Gereja Katedral diresmikan pada 1901 dengan nama resmi ‘De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten Hemelopneming’ yang berarti Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga.

Ketika gw memasuki gereja, ada kira2 10 orang yang sedang berdoa di depan altar, & gw pun memulai penjelajahan gw. Lantai gereja merupakan lantai marmer berwarna hitam putih dengan ukuran 50 x 50 cm yang disusun secara diagonal. Lalu pada dinding bagian tengah gereja terdapat lukisan cerita Jalan Salib karya Theo Molkenboer, seorang pelukis dari Amsterdam. Keunikan lukisan ini adalah media lukisan yang dibuat di atas ubin2 yang kemudian disusun & dipasang di dinding pada tahun 1912. Kemudian pada sisi kiri gereja terdapat ruang pengakuan dosa menuju altar.

menuju altar..

menuju altar..

lukisan dinding Jalan Salib..

lukisan dinding Jalan Salib..

ruang pengakuan dosa..

ruang pengakuan dosa..

Setelah puas melihat2, Mas Agung mengajak gw naik ke lantai 2 untuk melihat altar dari atas. Ngga banyak yang bisa gw lihat di atas karena sedang ada kegiatan renovasi. Tiba2 aja, gw mendengar tawaran menarik dari Mas Agung, yaitu naik ke menara setinggi kurang lebih 10 M. Tanpa basa basi gw terima tawarannya tanpa peduli informasi yang diberikan oleh Mas Agung bahwa tangga naiknya adalah tangga satu. Akhirnya naiklah gw ke loteng gereja sebanyak 5 lantai dengan ketebalan debu loteng sekitar 1 cm. Gw kini berada di Menara Benteng Daud dengan pintu keluar menuju balkon yang berhadapan langsung dengan Menara Gading. Yeah!! Here I am at 33 feet high!! ^^ Dari ketinggian itu, gw bahkan bisa melihat gedung kantor gw. Hehehe..

altar dari lantai 2..

altar dari lantai 2..

Menara Gading dari Menara Benteng Daud..

Menara Gading dari Menara Benteng Daud..

Menara Angelus Dei

Menara Angelus Dei

Menara Gading dari balkon..

Menara Gading dari balkon..

Istiqlal dari Katedral..

Istiqlal dari Katedral..

Setelah puas menikmati suasana siang Jakarta dari atas, gw pun mengajak Mas Agung untuk kembali menginjak daratan. :D Selain karena angin yang terasa makin kencang, gw pun masih harus melanjutkan perjalanan gw ke Kota Tua. Well, bisa masuk & memanjat menara bangunan berarsitektur keren ini benar2 bakal jadi pengalaman mahal yang bisa gw ceritakan ke anak gw nanti. Huhuyy!! ^^ 

Terima kasih khusus buat Mas Agung yang sudah rela membawakan tas & sandal gw ketika gw memanjat tangga loteng menara. GBU.

25
Sep
09

Petualangan Kamis, 10/09/09 – Museum Nasional

Rabu, 09/09/09

18:45 — I’m saying this to myself, “Seharusnya ga perlu gw klik link itu yang pada akhirnya cuma bikin gw tau apa yang ga perlu gw tau. Gw lupa ma prinsip gw sendiri klo ‘What you don’t know can’t hurt you.’ Pengetahuan yang gw ketahui malam itu tidak berefek apapun selain sesak di dada, lemas di seluruh tubuh, banjir & bengkak di mata serta warna merah di hidung. WTF!!”

20:00 — Cubicle mate alias rekan kerja gw, Wachid, berteriak, “Vin, pulang jam berapa?”

20:30 — Semua kesedihan & kekecewaan ini harus segera dihentikan, otherwise I will lose myself soon. I’m sending an email to my boss: Pak, mohon izin cuti sehari besok karena ada keperluan, tks. My boss reply my email saying his approval couple minutes then. This is it, I’m gonna taking my life back!!

20:45 – Cubicle mate gw berteriak sekali lagi, “Vin, ayo pulang. Udah malam, cepetan gw tungguin!!”

21:00 — On my way home I’m sending short message to Reza, “Za, gw suntuk nih. Bsk gw cuti sehari, gw pinjem kamera lo ya. Bsk pagi gw ambil di dpn kantor.” SMS replied with an OK.

Yes!! Cuti dah disetujui & kamera dah dipinjemin. Berangkat!!

Kamis, 10/09/09

09:30 — Gw menjemput kamera pinjeman gw di lobby kantor & segera menuju lokasi #1. Museum Nasional.

Museum Nasional berada di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Museum ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah karena adanya patung gajah di depan gedungnya. Patung gajah itu sendiri adalah pemberian dari Raja Thailand (Siam) Somdej Praparamintramaha Chulalongkorn sewaktu beliau berkunjung ke Batavia pada Maret 1871. Museum ini memiliki bermacam2 koleksi dari bidang prasejarah, sejarah, arkeologi, etnografi & geografi.

Museum Nasional alias Museum Gajah

Museum Nasional alias Museum Gajah

Gw masih teringat dengan sebuah tulisan dari rekan kerja gw beberapa waktu lalu tentang refleksi apakah kita sebagai WNI sudah cukup mengenal & menjaga budaya kita sendiri sebelum kita berkoar2 perihal pencurian budaya dsb. Sewaktu gw membaca tulisan itu, gw merasa klo ternyata gw belum tau apa2 tentang kekayaan budaya negeri candi tercinta gw ini. Hal itulah yang membuat gw ingin mengunjungi ruang pameran etnografi terlebih dahulu sebelum melepas rindu dengan para koleksi arca di museum ini.

Pada ruang pameran etnografi, gw menemukan banyak pengetahuan budaya Indonesia yang belum pernah gw tau sebelumnya. Ada yang sudah tau belum kalau para pendahulu kita sudah mampu membuat motif dari manik-manik dengan tujuan sebagai penolak bala dengan hasil yang indah? Lalu apakah kita sudah tau perlengkapan2 apa saja yang digunakan pada saat membatik? Ini pertama kalinya gw tau klo membatik ternyata bukan cuma butuh kain, cat & canting. Perlengkapan membatik lainnya adalah gawangan yang berfungsi sebagai bingkai dari kayu untuk menjepit kain ketika proses pelukisan, lalu ada juga saringan lilin yang terbuat dari bambu untuk melakukan filtrasi dari lilin agar tidak ada kotoran yang bisa menyumbat lubang canting, kemudian juga ada bandul yang berfungsi sebagai pemberat kain agar kain tidak mudah tertiup angin ketika pembatik sedang bekerja. Selain batik, ada pula informasi perihal keris. Seingat gw, keris juga menjadi salah satu klaim budaya yang diperdebatkan beberapa waktu lalu. Namun ternyata dari papan informasi itu tertulis bahwa keris merupakan senjata tikam tradisional yang tersebar di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Philippine, Kamboja & Brunei. Jadi bukan ga mungkin kalau keris juga adalah budaya negara tetangga kita kan? CMIIW. Sebagai informasi, keris buatan Indonesia pada umumnya berlekuk 11 & 13.

Koleksi berikutnya adalah koleksi gamelan. Ini untuk pertama kalinya gw tahu kalau gamelan ternyata bukan cuma ada di Jawa, tetapi juga ada di berbagai daerah Sumatera, Bali bahkan Kalimantan, tentu saja dengan jenis2 alat musik khas daerah masing-masing. Koleksi berikutnya adalah salah satu jenis alat musik khas daerah Papua yaitu gendang Papua. Gendang Papua berasal dari kayu yang dibentuk menyerupai jam pasir. Walaupun memiliki 2 sisi, gendang ini hanya memiliki 1 sisi bermembran alias berkepala tunggal. Jika di daerah Jawa membran gendang berasal dari kulit sapi, kulit membran gendang Papua berasal dari kulit iguana, kadal, babi, buaya bahkan kasuari. Kulit2 hewan tersebut dilekatkan dengan campuran darah & kapur, kemudian dililit dengan rotan. Agar bentuk kulit terjaga & mampu menghasilkan suara yang diinginkan, kulit membran dioleskan dengan lelehan lilin lebah. Tradisional & unik kan?

Gamelan Jawa Tengah

Gamelan Jawa Tengah

Gamelan Jawa Barat

Gamelan Jawa Barat

Gamelan Kalimantan

Gamelan Kalimantan

Melangkah ke ruangan berikutnya adalah ruangan koleksi keramik. Koleksi keramik berupa guci, kendi, piring, mangkuk, teko, cangkir maupun gelas tertata rapih di dalam lemari-lemari kaca. Keramik2 ini pada umumnya berasal dari negera China, Vietnam dan Persia yang ditemukan tersebar di seluruh wilayah nusantara. Selesai berkeliling di ruangan keramik, gw melangkah ke lokasi tempat para arca berkumpul. Arca yang terdapat di Museum Nasional ini sangatlah beragam, yaitu arca khas agama Hindu & Buddha yang ditemukan di seluruh pelosok nusantara termasuk juga arca Ganesha. Beberapa waktu lalu gw baru saja membaca informasi yang mengatakan bahwa arca Ganesha yang asli terciri dari salah satu gadingnya yang patah. Ada beberapa mitos tentang patahnya gading Ganesha, salah satunya adalah karena digunakan untuk menulis kitab. Jadilah hari itu gw menyempatkan untuk memperhatikan setiap arca Ganesha yang ada di Museum Nasional & hasilnya para Ganesha hanya memiliki satu buah gading.

Ruang Pameran Keramik

Ruang Pameran Keramik

Penemuan Keramik di Trowulan

Penemuan Keramik di Trowulan

Arca Ganesha

Arca Ganesha - Gadingnya patah sebelah kan?

Setelah puas temu kangen dengan para arca, gw naik menuju ruang khasanah di lantai 2. Ruang khasanah adalah ruang pameran benda2 bersejarah yang berlapis emas, perak & perunggu. Pada ruang khasanah pertama terdapat berbagai macam benda sejarah dari seluruh Indonesia yang berlapis logam2 mulia, mulai dari perhiasan, peralatan perang, peralatan makan, hulu keris, mahkota hingga patung. Sedangkan di ruang khasanah kedua terdapat benda2 arkeologi yang berlapis emas & perunggu. Ada yang masih asing dengan kata peripih ga? Peripih adalah isi dari lubang atau sumur yang terdapat di dalam sebuah candi, & ini adalah kali pertama gw melihat seperti apa bentuk peripih2 yang terbuat dari emas. Peripih pada umumnya adalah benda2 magis berupa lembaran emas bertulisan, mata uang, serta lempengan emas berbentuk simbol2 kedewaan seperti durga, siwa, nandi & naga. Koleksi berikutnya adalah arca2 Budhha emas & lempengan2 emas dewa2 Hindu yang ditemukan di pelosok Pulau Jawa yang kira2 berasal dari abad 8-9 M. Buat yang penasaran & belum pernah melihat seperti apa arca emas & perunggu yang ditemukan di masa lampau, datang deh ke sini & buktikan sendiri betapa menakjubkannya kemegahan & keragaman sejarah Indonesia. NB. Khusus di area ini gw patuh pada aturan untuk tidak mengambil gambar sama sekali, jadi klo penasaran silakan berkunjung ke sini.

Kunjungan gw pun selesai. Percaya atau ngga, ketika gw berkunjung ada banyak sekali rombongan study tour anak2 sekolah. Dari sekian banyak rombongan ini, cuma ada 1 rombongan yang berisi anak2 WNI dari SD Tunas Bangsa, sedangkan rombongan lainnya adalah rombongan anak2 WNA. Gw sempat berbincang sebentar dengan Ibu Hanni, salah 1 guru SD Tunas Bangsa yang sempat mengira bahwa gw adalah wartawan. *Hehe.. Saya mah wartawan stress, Bu.. :P * Ibu Hanni bercerita bahwa study tour ini adalah salah satu program rutin di sekolahnya agar murid2 tertarik mempelajari sejarah yang terkesan membosankan & ternyata mendapatkan respon antusias yang baik dari murid2nya. Sedangkan pada rombongan study tour anak2 expatriate, ada keunikan dari salah 1 pemandunya, pemandu tersebut menggunakan atasan blus dengan aksesori kalung etnik khas Kalimantan & lilitan sarung batik berwarna biru. *Pemandu yang sangat representative..*

Bagi yang belum pernah ke sini, yuk, luangkan waktu berkunjung, sedangkan untuk yang sudah pernah, museum ini ga pernah membosankan koq untuk dikunjungi lagi. Tiket masuknya cuma Rp750,- & lokasinya termasuk di jalur Busway koridor I, cukup turun di halte Monas & Museum Nasional ada di seberangnya. Museum ini tutup setiap hari Senin selayaknya seluruh museum di Jakarta.

Ini tiketnya..

Ini tiketnya..

Yuk.. Kenali negerimu, cintai negerimu!! ^^

24
Sep
09

Menu Lebaran “Happy Ied 1430 H”

“Minal aidin wal faidzin..”

“Mohon maaf lahir & batin..”

“Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H..”

“Happy Ied 1430 H..”

 

Setelah saat bulan puasa lalu gw menulis tentang tradisi puasa di rumah gw, kali ini gw mau mendokumentasikan hasil jerih payah nyokap gw & gw sebagai sajian di hari raya. Seperti yang pernah gw tulis tentang betapa hasrat ke-Padang-an nyokap gw bisa terpenuhi ketika Lebaran, maka inilah hasil menu Lebaran tahun 2009 yang didokumentasikan oleh Fux, si kamera baru. *Yay!! ^^*

Menu #1

Ikan Bilih Pete Balado - Paling enak dimakan sama nasi panas & minuman teh tawar panas. Kontribusi gw: makannn.. ^^

Ikan Bilih Pete Balado - Paling enak dimakan sama nasi panas & minuman teh tawar panas. Kontribusi gw: makannn.. ^^

Menu #2 

Rendang - Rasa gurih & pedesnya pas banget. Kontribusi gw: ngupas bawang putih, ngulek bumbu, bersihin kentang, ngaduk2 & makannn.. :D

Rendang - Rasa gurih & pedesnya pas banget. Kontribusi gw: ngupas bawang putih, ngulek bumbu, bersihin kentang, ngaduk2 & makannn.. :D

Menu #3

Sayur Buncis - Ini jagoannya, buncis + tetelan = mantab!! Kontribusi gw: ngupas & ngiris buncis, ngulek bumbu & tentunya makannn.. :P

Sayur Buncis - Ini jagoannya, buncis + tetelan = mantab!! Kontribusi gw: ngupas & ngiris buncis, ngulek bumbu & tentunya makannn.. :P

Menu #4

Kuah Opor - Yeup.. Ini cuma kuah opor tanpa ayam, berhubung setahun belakangan ini gw ga makan ayam maka dibuatlah khusus kuah opor untuk gw.. Kontribusi gw: makan pastinyaaa.. ;)

Kuah Opor - Yeup.. Ini cuma kuah opor tanpa ayam, berhubung setahun belakangan ini gw ga makan ayam maka dibuatlah khusus kuah opor untuk gw.. Kontribusi gw: makan pastinyaaa.. ;)

 Ketupatnya? Ada koq, tapi lupa gw foto.. Hehehe.. :P

si Bantet ketika proses pembuatan Ikan Bilih Pete Balado berlangsung..

si Bantet ketika proses pembuatan Ikan Bilih Pete Balado berlangsung..

Inilah yg terjadi di luar dapur ketika proses pemotongan daging dilakukan.. Manon (kiri) & Belang (kanan) menanti pintu dapur dibuka..

Inilah yg terjadi di luar dapur ketika proses pemotongan daging dilakukan.. Manon (kiri) & Belang (kanan) menanti pintu dapur dibuka..

Akhir cerita, Vinna mengucapkan mohon maaf lahir & batin kepada semua rekan & pembaca. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Amin.

15
Sep
09

Reminiscing The Carpenters

The Carpenters, duo pemusik yang terdiri dari kakak beradik Karen & Richard Carpenter adalah salah satu my all time favorite musicians. Karen sebagai vokalis, sedangkan kakaknya, Richard, berperan sebagai pianis. Mereka mencapai masa jaya mereka di pertengahan tahun 1970-an. Hehehe.. Gw bahkan belum lahir di tahun itu, tapi koleksi kaset milik Alm. Papa cukup bikin gw bisa menyukai karya2 mereka. Gw mulai mengenal mereka pada tahun 1997, saat gw kelas 2 SMP.

Menurut gw, Karen Carpenter memiliki suara yang khas & indah. Sayangnya, Karen meninggal dunia pada 4 Februari 1983 karena anorexia. Semacam penyakit kejiwaan yang selalu ingin kurus & membuat penderitanya ga punya keinginan untuk makan sama sekali. *Sedangkan gw ga pnah kehilangan keinginan untuk makan.. :P * Dengan meninggalnya Karen, karir The Carpenters otomatis terhenti & nama mereka kini tinggalah sebuah legenda di musik pop.

Sore ini, entah kenapa gw kangen mendengarkan lagu2 mereka. Lihat2 di Youtube, gw menemukan satu lagu kesukaan gw lengkap dengan official video clip-nya. Judul lagu itu adalah I Need To Be In Love. Lagu sederhana yang manis dengan lirik yang kerap kali terlintas di pikiran gw. http://www.youtube.com/watch?v=aTYBaV9b5go

I Need To Be In Love

The hardest thing I’ve ever done is keep believing

There’s someone in this crazy world for me

The way that people come & go through temporary lives

My chance could come & I might never know

 

I used to say no promises, let’s keep it simple

But freedom only helps you to say goodbye

It took a while for me to learn that nothing comes for free

The price I’ve paid is high enough for me

 

I know I need to be in love

I know I’ve wasted too much time

I know I ask perfection of a quite imperfect world

And fool enough to think that’s what I’ll find

 

So here I am with pockets full of good intentions

But none of them will comfort me tonight

I’m wide awake at 4 AM without a friend in sight

Hanging on a hope but I’m alright